Selasa, 20 Maret 2012

Analisis Novel "Hati yang Damai Karya Nh. Dini


Hati yang Haus Cinta
Oleh: Hartana Adhi Permana



Novel Hati yang Damai diterbitkan pertama kali oleh Nusantara Bukittinggi tahun 1961, kemudian mulai cetakan kedua tahun 1976 diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya sejak tahun 2002 diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta. Dapat dipahami apabila novel ini menjadi penting karena pengarang wanita pada masa itu masih terbilang langka. Yang muncul pada waktu itu adalah Titis Basino, Surtiningsih, Hartini, tetapi tidak tampak perkembangannya kemudian. Ternyata di antara pengarang wanita masa 1960-an hanya Nh Dini yang masih terus menulis hingga usia lanjut sejalan dengan ratusan pengarang wanita yang boleh diibaratkan anak-cucunya. Buktinya, pada 5 Maret 2007 di Semarang Nh. Dini meluncurkan buku terbaru berjudul La Grande Borne, serial terakhir dari kisah-kisah kenangannya.

            Intisari novel Hati yang Damai adalah kegalauan hati seorang istri penerbang yang bertemu lagi dengan kekasih-kekasihnya justru di saat sang suami berada jauh di luar rumah. Namun, pada akhirnya sang tokoh menemukan kedamaian hati dalam keluasan hati suaminya.

            Kata Ajip Rosidi (1969: 178), kisah ini sangat mengharukan dan ditulis dengan halus mengajuk hati wanita, sedangkan Prihatmi (1977: 50) menyatakan bahwa novel ini mampu memukau perhatian pembaca. Seorang yang lembut, jujur, sederhana, dan selalu memilih kedamaian hati telah ditampilkan pengarang sebagai tokoh utama.

            Tokoh utama itu adalah Dati yang pada mulanya bercintaan dengan Sidik, tetapi Nardi sebagai sahabat Sidik ternyata juga menaruh hati. Dati tidak mau melukai perasaan kedua pemuda itu sehingga memutuskan hubungan dengan keduanya secara baik-baik, kemudian berpindah ke kota lain dan akhirnya menikah dengan penerbang Wija. Dalam perjalanan kehidupan Dati yang tenang, tiba-tiba muncul kembali Sidik sebagai seorang pejabat berkedudukan tinggi, tetapi diketahui terbiasa tidur dengan perempuan komersial yang berkelas.

            Sejak kecil ia tidak cukup dapat menerima dan mencurahkan cinta, juga kemanjaan. Tetapi, di luar rumah ia dicintai dan dimanja banyak kawan. Maka, terjadilah cinta segi tiga. Lalu, ia pun melarikan diri. Maksudnya agar tidak melukai hati salah seorang. Tetapi dengan begitu ia melukai hati tiga orang; Sidik, Nardi dan ia sendiri. Dalam pelariannya ia mendapatkan seseorang. Benarkah ia mencintainya? Inilah apa yang dikatakannya.

            “Apakah sebenarnya yang telah kuberikan kepada Wija suamiku? Lelaki itu mengecap hidup dengan perempuan yang memberinya keperawanan dan kesetiaan”. Kesetiaan? Masalahnya tidak berhenti di sini. Pada suatu ketika secara tiba-tiba ia dihadapkan pada ketiga orang yang terlibat dalam cintanya yang berkembang menjadi cinta segi empat.

Tidak lama kemudian Wija mengalami kecelakaan dalam sebuah pendaratan pesawat sehingga harus dirawat di rumah sakit. Secara kebetulan, dokternya adalah Nardi yang dahulu pernah menaruh hati kepada Dati. Akan tetapi, Nardi dengan jujur mengalami Dati sebagai istri Wija. Pada akhirnya, Dati tetap berada dalam rangkulan kasih sayang Wija.

            Meskipun novel itu terbilang pendek atau ringkas, banyak peristiwa yang terjalin di dalamnya. Tergambar juga watak manusia yang tidak semua dapat dibaca dari perbuatannya. Dapat dipastikan gambaran tersebut memperkaya pengetahuan dan pengalaman batin pembaca. Oleh karena itu, novel ini sepantasnya disimak dengan cermat sebagai modal awal memahami karya Nh. Dini yang terbit kemudian, seperti Pada Sebuah Kapal, Keberangkatan, La Barka, Jalan Bandungan, dan kisah-kisah kenangan seperti Sekayu, Langit dan Bumi Sahabat Kami, dan terakhir La Grande Borne.

            Pada dasarnya alur novel Hati yang Damai memiliki adanya pertahapan seperti tahap perkenalan, konflik, klimak dan penyelesaian. Tahap perkenalan, pada tahap ini tokoh utama “aku” diperkenalkan kepada seorang pria yang bernama Sidik sebagai kekasih tokoh Aku. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

            “Kau akan memperkenalkan istrimu kepadaku? Kataku setelah kami berada terdiam sejenak. Sidik tidak menjawab. “Aku harap kau memperkenalkannya kepadaku” ia tidak menjawab. Ia tetap berdiri membelakangi pagar yang memisahkan rumah makan itu dengan landas terbuka di belakangnya” (HYD; 1992: 5).

            Kemudian perkenalan tokoh “aku” diperjelas lagi oleh pernyataan lainnya. Hal ini dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

            “Memang ada apa-apa diantara kita. “Ia kembali duduk dan matanya terpaku ke wajahku. “ada suatu pengenalan yang tidak akan bisa diartikan orang lain. Ada pengenalan yang tidak akan bisa diartikan orang lain. Ada pengenalan yang akan selalu menguatkan kita bersua hingga kita terpaksa mengakui, bahwa kita dilahirkan hanya untuk menjadi satu.” Matanya hitam dan dalam mencekamku kau mengeluh mengelakkannya (HYD; 1992: 6).

 Pada tahap konflik sang tokoh utama tokoh “aku” menolak ajakan temannya untuk ke luar malam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

            “Maka aku putuskan segalanya dengan perasaan yang gusar. Aku meninggalkan keduanya. Dengan begitu tiga hati telah kulukai. Sidik, Nardi, dan aku sendiri. Aku tinggalkan ibuku pindah ke tempat yang lain. (HYD: 1992: 19)

Pada tahap klimaks ini dikisahkan tokoh “aku” yang merasa sedih kesal atas perilakunya sendiri yang mencintai orang lain dan serasa telah membunuh kedua orang tuanya akibat perlakuannya yang kurang bagus, sedangkan suaminya sendiri tidak dicintainya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

“Aku mulai tidak bisa mengendalikan ketenagaanku. Tenagaku erat dengan kemudi. Resah dan perasaan aneh mencekamku. Beginilah perasaan orang yang akan mati? Apakah ibuku juga telah aku bunuh? Apakah perempuan yang telah mengandung dan membawaku ke dunia itu ada perempuan yang telah mengandung dan membawaku ke dunia itu ada dalam kumpulan asap yang akan ditinggalkan? Dati, maafkan aku, telah menjadi pembunuh dan perusak tanganku sendiri dengan tiada semauku sendiri.” (HYD; 1992: 37).

Tahap penyelesaian ini tokoh aku meminta damai dengan suaminya lagi dan menyesali atas perbuatannya yang tidak baik lagi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

“Apakah bisa diharapkan dari seseorang yang kembali dari perang? Aku mengalami sendiri apa yang pernah kukatakan. Apakah yang aku harapkan daripadanya? Pesawatnya tidak kembali ke pangkalan karena salah satu mesinnya tidak bekerja. Dia masih mengadakan hubungan dengan pangkalan dua belas menit sebelum mendarat, diam, apakah diyakini? Apakah bedanya tidak kembali ke pangkalan dan jatuh menjadi puing dengan pesawatnya? (HYD; 1992: 72).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

“Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Setiap kali aku sadar aku melihat bayang-bayang yang tidak tampak jelas mukanya. Samar-samar kudengar istri kapten di samping rumahku membujuk anakku. Kemudian suara laki-laki. Dan kemudian sepi lagi. (HYD; 1992: 73).

Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat cuplikan berikut ini.

“Dia dengan sukar mengucapkan kata-katanya. Dan aku mendengarkan. Beban aku serasa kosong. Tubuhku serasa ringan. Aku menyadarkan kepalaku ke kursi. Kulihat bayang-bayang yang bersimpang-siur di depan dan sampingku (1992: 74).

Berbagai tokoh yang terlibat dalam novel teks novel Hati yang Damai adalah sebagai berikut.

(1). Aku; merupakan tokoh utama dari cerita tokoh novel Hati yang Damai.
(2). Sidik; seorang pria yang sangat baik yang mencintai tokoh aku.
(3). Wija; merupakan pacar kedua dari tokoh aku.
(4). Nardi; sahabat Sidik yang diperkenalkan kepada tokoh aku.
(5). Asti; merupakan kakak ipar dari tokoh sang aku.
(6). Atni; merupakan anak sulung dari tokoh aku.
(7). Anto; anak kedua dari tokoh aku.

Deskripsi mengenai penokohan “aku” dapat dilihat pada kutipan teks novel berikut ini.

“Aku hidup sadar dari hari ke hari dengan kebahagiaanku. Aku mempunyai anak, aku mempunyai suami. Kedamaianku hanya selintas-selintas, jika kamu berkumpul semua; anakku suamiku dan aku. Pekerjaan suamiku merupakan bayangan yang menakuti perasaanku setiap saat. Juga keadaan merupakan bayangan yang menakuti perasaanku setiap saat. Juga keadaanhati yang tidak bisa dipercaya akhir-akhir ini semakin mencemaskan hatiku. Dan kini aku datang. Adakah ini hanya bersebab kepadaku saja, aku sendiri?” (HYD;1992: 8).

Pemberian fisik tidak diungkapkan secara eksplisit oleh pengarang, akan tetapi dalam hal psikis terlihat sangat jelas bagaimanapun tokoh “aku” ini berusaha ingin mendamaikan kedamaian hati. Hal ini tergambar pada kutipan berikut ini.

“Malam itu dalam kamarmu yang sempit kita telah berjalan jauh, menjelajahi hidup. Itu berjalan pertama bagimu. Aku tahu. Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa itu bukan malam pertama bagiku. “Ia tiba-tiba telah berdiri dekat sekali denganku. Dan aku tidak mendengar yang lainnya selain suaranya yang bening, tenang dan damai. Aku tidak melihat lainnya selain dia, suamiku yang telah kembali dan mencintaiku. Aku tidak berani menatapnya. Aku tundukkan kepalaku. (HYD; 1992: 82).

Selain itu tokoh “aku” merasa hidupnya lebih damai dalam ini rohaninya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“Kami berpandangan. Perkataannya amat menunjang perasaan hatiku. Kuulurkan jari-jari tangankuke bibirnya, dan aku peluk dia. Aku peluk dia erat. Kudapatkan kepalaku dengan terisak sebuah kekuatan yang sejuk mengait perasaanku. Aku kemudian menyadari kedamaian dan ketenangan yang dibawanya kepadaku (HYD; 1992: 82)

Tema yang terkandung dalam novel Hati yang Damai mengisahkan hati yang haus akan cinta, dari hati seorang istri tentara yang resah berkepanjangan, selain itu juga menggambarkan masalah cinta seorang wanita yang ketakutan akan mengalami berbagai macam godaan untuk mempertegas tema di atas dapat dilihat cuplikan berikut ini.

“Dalam pelariannya dapatkan seseorang. “Apakah sebenarnya yang telah kuberikan kepada Wija suamiku? Laki-laki itu mengecap hidup dengan perempuan yang memberinya keperawanan dan kesetiaan (HYD; 1992: 53).

Sedangkan yang berhubungan dengan tema adalah gangguan dalam bercinta pada tokoh “aku”. 

”Selalu dilanda kegelisahan dalam bermain cinta di luar / di belakang suaminya. Ia berkali-kali bertemu mantan pacarnya sehingga ia tergoda. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cuplikan berikut ini.

“Aku tahu kau masih mencintainya. Tapi aku juga tahu bahwa mencintai itu memang mudah. Untuk saling mengerti itu yang sukar. Kudengar suamiku berkata, suaranya dengan terang. Aku melihat kepadanya. Jadi ia tahu dan mengerti siapa Sidik. Dia pasti mengerti semaunya. Kulihat Sidik terhenti di pintu. Antara kita ada pengertian yang besar, ada persamaan yang besar. Hanya dari dulu ada satu beda. Aku mencintaimu dari kau tidak mencintaiku.” (HYD; 1992: 81).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar