Selasa, 20 Maret 2012

Analisis Novel "Azab dan Sengsara" Karya Merari Siregar


Kasih Tak Sampai
Oleh: Hartana Adhi Permana



Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan Sengsara ini sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka, 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting.
 
                Sebelum masuk kepada pembahasan analisis novel ini, saya akan memaparkan sinopsis Novel “Azab dan Sengsara” ini terlebih dahulu sebagai berikut.

Di sebuah kota kecil, Sipirok yang berada di wilayah Tapanuli pada Pegunungan Bukit Barisan terdapat sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdari dari seorang ibu yang sudah janda, Nuriah namanya. Dia memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang gadis, Mariamin yang memiliki paras cantik dan berbudi pekerti halus. Anak kedua laki-laki yang berusia empat tahun.

Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat Sungai Sipirok. Mereka hidup bertiga penuh kesengsaraan dan kesedihan yang ditanggung bersama-sama. Semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan putus asa. Semua permasalahan hidupnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kisah sedihnya bermula dengan kematian ayahnya Sutan Barigin. Di saat itu kebagiaanya sebagai seorang gadis terenggut secara tiba-tiba. Sebelum ayahnya meninggal kehidupan mereka berada dalam kecukupan, tak kurang suatu apa pun. Rumah bagus, sawah yang luas, binatang ternak juga banyak. Semua harta yang banyak itu akhirnya lenyap habis. Harta yang habis itu diakibatkan oleh prilaku Sutan Barigin itu sendiri. Sutan barigin memiliki sifat tamak, rakus, keras kepada, tidak peduli pada istri serta mudah kena hasutan orang lain. Harta warisan yang seharusnya dibagikan kepada saudara yang berbeda nenek yaitu Baginda Mulia, Sutan Barigin tidak mau membaginya. Atas hasutan Marah Sait, Sutan Barigin malah memperakanya ke pengadilan. Yang keji lagi Sutan Barigin tidak mau mengaku saudara pada  Baginda Mulia. Sebenarnya Baginda Mulia mengajak berdamai saja, berapapun harta warisan yang akan diberikan Sutan Barigin kepadanya akan diterima saja. Sutan barigin tetap tidak mau dan ingin memperkarakan saja.

Sidang perkara warisan di gelar di Sipirok, semua biaya ditanggung oleh Sutan Barigin. Sutan Barigin kalah karena Baginda Mulia adalah saudara Barigin dan berhak separuh atas warisan neneknya. Sutan Barigin naik banding lagi ke pengadilan yang lebih tinggi di Padang. Untuk perkara perlu biaya yang besar, sawah dan ternak terjual habis. Yang untung adalah Marah Sait mendapat jatah uang juga dari Sutan Barigin. Sedangkan perkara dimenangkan oleh Baginda Mulia. Perkara dilanjutkan ke Jakarta, biaya lebih besar lagi. Sutan Barigin tetap kalah sampai akhirnya barulah ia sadar dan menyesal tidak mau menerima saran istri dan Baginda Mulia untuk berdamai. Sesal kemudian tidak berguna. Kesengsaraan dan kemalaratan saja yang dierima Sutan Barigin dan anak keluarga ikut menanggung azab dan sengsara. Sampai pada nasib terakhir Sutan Barigin terkena penyakit sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawa orang yang loba dan tamak itu.

Kesedihan Mariamin disusul oleh kepergian kekasihnya Aminudin ke kota Medan, hingga hancurlah semua cita-cita dan harapan yang telah terbina sejak lama. Di Medan Aminudin bekerja di perkebunan tembakau. Ia  mencoba menyurati Mariamin. Bahkan dalam suratnya mengatakan hendak meminang Mariamin untuk dijadikan istrinya.

Aminudin menyuruh ayahnya agar melamar Mariamin kepada ibunya dan segara di antarkanya ke Medan. Tapi ayah Aminudin malah membawa perempuan lain ke Medan dengan alasan Mariamin bukan jodoh Aminudin. Pendapat itu bersumber dari seorang dukun yang dimintai pendapat ayahnya Aminudin.. Dengan sangat terpaksa, kecewa dan menyesal Aminudin menika dengan perempuan yang tidak dicintainya karena cintanya hanya kepada Mariamin. Rasa bersalah pada Mariamin ia sampaikan lewat surat serta permohonan ma’af kepada keluarganya. Semua itu bukan kehendak Aminudin untuk meninggalkan Mariamin.

Di Sipirok Mariamin menikah dengan Kasibun atas anjuran ibunya. Kasibun seorang laki-laki hidung belang yang mengidap penyakit kelamin. Mariamin di bawa juga ke Medan oleh Kasibun. Di Medan Mariamin sempat bertemu dengan Aminudin. Di Medan pula ia merasakan penyiksaan dari Kasibun karena ia selalu menolak hasrat berahinya. Mariamin takut penyakit Kasibun menular kepadanya.

Tidak kuat dengan siksaan Kasibun, Mariamin pergi meninggalkan Medan dan pulang kembali ke Sipirok. Di Sipirok inilah berakhirnya penderitaan dan kesengsaraan Mariamin. Gadis yang suci dan bernasib malang itu menemui ajalnya. untuk mengakhiri ajab dan kesengsaraan di dunia yang fana ini. Arwahnya yang suci naik ke tempat yang mahamulia, yang disediakan Tuhan untuk hamba-Nya yang percaya dan taat kepada-Nya.

Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka—yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngarora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.
 
Sejauh ini, studi terhadap novel Azali dan Sengsara, baru dilakukan pada tingkat sarjana muda, sebagaimana yang tampak dari penelitian Ahmad Tohir (UGM, 1969), Dzukifli Salleh (FSUI, 1962), dan Yacob bin Mohamed Tara (FS Unas, 1980).
 
Novel yang berjudul “Azab dan Sengsara” ini cukup sesuai dengan keadaan jaman (tahun 1920-an), yaitu ketika banyaknya kejadian kawin paksa/perjodohan atas kehendak orang tua bukan atas dasar cinta. 

Dilihat dari segi estetika (keindahan), tema cerita ini cukup mengandung unsur-unsur keindahan. Ceritanya diungkapkan dengan gaya yang sangat menarik. mengungkapkan kisah-kasih dua anak manusia yang yang sangat memilukan, karena keadaan tidak menghendaki mereka bersatu dan hidup bahagia, sehingga kesengsaraan-kesengsaraanlah yang kerap kali mereka terima. Novel ini pun mengandung unsur-unsur kebaikan, yaitu adanya kepatuhan kepada kedua orang tua, ketaatan kepada Allah, kesabaran, dan perjuangan hidup.

Dalam novel “ Azab dan Sengsara “Karya Merari Siregar ini saya menemukan beberapa tokoh yang berperan dalam novel ini diantaranya adalah sebagai berikut.

Mariamin, anaknya Sutan Barigin dan ibu Nuriah. Seoran gadis cantik, penyabar,tekun, ulet, berbudi pekerti halus dan patuh kepada orang tua. ( Azab dan Sengsara : 33 ). Aminudin, pemuda tampan kekasih Mariamin yang berbudi pekerti baik, sopan, peduli pada orang lain. ( Azab dan Sengsara : 35 ). Sutan Barigin, ayahnya Mariamin yang memiliki watak keras kepala, bengis, loba dan tamak, dengki dan khianat. ( Azab dan Sengsara :35,94 ). Nuriah, istri Sutan Barigin berwatak baik, penyabar, peduli pada sesame. ( Azab dan Sengsara :31 ). Baginda Mulia, Saudara sutan Barigin yang senenek. Wataknya baik dan penyayang pada saudara. Ibu Aminudin, adiknya Sutan Barigin. Wataknya baik, penyayang keluarga. Bapaknya Aminudin, baik, peduli keluarga. Hanya ada kelemahan yaitu suka menjodohkan anak dan suka pergi ke dukun untuk menanyakan jodoh Aminudin. Marah sait, seorang penghasut alias pokrol bambu pada Sutan Barigin. ( Azab dan Sengsara : 91,92 ). Kasibun, seorang lelaki hidung belang. Suami Mariamin yang kejam. Orang yang pintar dalam tipu daya. ( Azab dan Sengsara : 146,150,151,158 ).

Sedangkan dalam penokohanya, karakter untuk tiap tokoh, dapat diketahui melalui kajian analitik tokoh. Watak tokoh diketahui secara lansung dari pengarang yang menguraikan sifat tokohnya sebagaimana contoh kutipan yang tertulis berikut.

“Sutan Barigin orang yang telah rusak binasa budinya dari kecilnya, tiada mempunyai hati yang baik, sedikit pun tidak. Loba dan tamak, dengki dan khianat, itu sajalah yang memenuhi pikiranya. Herankah lagi kita, kalau segala jerih payah bapak Aminudin itu sia-sia belaka? Sutan Barigin tinggal bersitegang urat leher saja, perkataan siapa pun tiada diindahkanya, lain daripada asutan pokrol bamboo yang cerdik itu “ (Azab dan Sengsara : 94).

Dalam novel ini latar tempat yaitu di sebelah Timur di watasi Dolok (gunugan) Sipisan, di sebelah Barat Sibualbuali, Simagomago berdiri agak di sebelah Selatan, yang menjadi watas dan tanah Angkola. Simole-ole membatasi dataran tinggi itu pada sebelah Utara dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).

Kemudian latar waktu terjadi sekitar tahun 1920-an. Kisah ini ditulis oleh Merari Siregar yang saat itu berusia 24 tahun. Kecerdasan, daya imajinasi, serta emosional pengarang sangat kuat dan tajam dalam mengkritik adat istiadat yang ada di daerahnya. Latar budaya yang mengisahkan adat istiadat di tapanuli,  kawin paksa dan pernikahan dalam satu marga yang disukai oleh keluarga mereka seperti menikahkan anak kakak dan anak adiknya seperti kutipan.

            “ Meneurut adat orang di negeri itu ( Batak ) seharusnyalah bagi Aminudin menyebut Mariamin adik ( anggi bahasa Batak ) dan perkawinan antara anak muda ini sangat disukai orang tua kedua belah pihak.” Tali perkauman bertambah kuat, “ kata orang di kampong-kampung. Barangkali perkawinan serupa ini tiada biasa di tempat lain. “Lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya, kata peribahasa. “ ( Azab dan Sengsara : 33). 

Masalah kawin paksa dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Pikiran yang serupa itu acapkali didapati pada setengah kampong, yang kurang mengindahkan hal perkawinan serupa itu di belakang hari., Mereka memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anak perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya.” ( Azab dan Sengsara : 59-70)

Selain itu menjelaskan masalah perkauman marga seperti marga siregar,dan marga harahap, dan latar agama yaitu nilai agama yang dianut tokoh yaitu agama Islam. ( Azab dan Sengsara : 48, 83, 90, 93, 163 ).
Alur yang terdapat dalam novel Azab dan Sengsara adalah alur maju. Untuk mengetahui sebab kesengsaraan keluarga Mariamin, pengarang menyorot balik kisah kehidupan Sutan Barigin semasa kejayaan dan kekayaan yang masih melimpah. Karena suka berperkara daripada berdamai tentang harta warisan akhirnya kehidupan Sutan Baringin terbalik 180 derajat menjadi melarat, hina dan sengsara.

Cerita dilanjutkan dengan pernikahan aminudin dengan gadis lain, Mariamin dengan Kasibun yang berakhir dengan kaburnya Mariamin kembali ke Sipirok. Sebagai solusi pengarang mewafatkan tokoh Mariamin sebagai akhir cerita dan akhir kesengsaraan dunia untuk keluarga Mariamin.

Sudut pandang pengarang dalam novel “Azab dan Sengsara” yaitu pengarang menempatkan diri sebagai observer yang mengamati tiap kejadian dan peristiwa dalam cerita. Pengarang menggunakan teknik bercerita “Dia-an” artinya pengalaman diwakilkan pada tokoh-tokohnya.

Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam novel ini yaitu bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia melayu. Urutan bahasa yang runtut, enak dibaca dan mudah dipahami pembaca. Penggunaan ungkapan, gaya bahasa serta peribahasa nampak dalam tiap pengisahan.  Ungkapan ‘pokrol bambu’ untuk orang yang suka menghasut dan menipu sama artinya dengan trong kohkol nyaring bunyinya. Sarung bengkok di makan mata pisau yang bermakna orang licik,pelit, serakah akan hancur oleh sifat yang buruk itu.

Amanat dari pengarang novel yaitu selalu bersikap sabar dalam menempuh ujian yang sangat berat, jangan putus asa dari rahmat Allah. Budi pekerti yang baik dan terpuji akan membawa kebahagian hidup di di dunia dan akhirat. Sifat serakah,pelit, kejam, aniaya, khianat akan membawa kehancuran pada orang tersebut. Janganlah kita percaya pada dukun masalah perjodohan karena itu perbuatan musyrik. Manusia hanya merencanakan, Tuhan yang menentukan. Pendidikan moral, agama dan akhlak mulia lebih berharga dari harta benda.

Kisah ini mengandung tuntunan yang baik dan berguna bagi para remaja, yang biasanya gampang berputus atas jika tengah menghadapi suatu kegagalan. Karena pada umumnya mereka kurang menyadari bahwa belum berhasilnya seseorang dalam mencapai cita-cita itu sebenarnya merupakan baru ujian dan cambuk untuk lebih berhasil meraihnya.

Keunggulan dari novel “ Azab dan Sengsara “ adalah terletak dalam penekanan untuk memberikan kesadaran pada pembaca agar jangan berbuat mengikuti adat istiadat yang kurang baik. Buku ini sangat luar biasa dalam menanamkan moral dan akhlak mulia untuk pembaca. Tokoh antagonis dari Sutan Barigin dan Marah Sait membuat kita sadar terkadang sifat tersebut ada pada diri kita. Maka hindari dan jauhilah. Keunggulan lain yaitu dalam cara menyajikan kisahnya. Cerita disusun secara rapi, enak dibaca dan mudah dipahami. Penggunaan ungkapan, gaya bahasa dan peribahasa sangat menyentuh perasaan.

Namun di sisi lain tiap karya sastra ada kelemahanya juga. Konflik yang terjadi sangat sederhana. Tidak terlalu rumit sehingga pembaca tidak terlalu dituntuk untuk berpikir keras. Konfliknya tunggal yaitu berkisar perebutan harta warisan saja. Ini merupakan masalah social yang terjadi di masyarakat pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar