Selasa, 20 Maret 2012

Analisis Novel "Belenggu" Karya Armijn Pane


Tragedi Cinta yang Tak Diharapkan
Oleh: Hartana Adhi Permana






Novel Belenggu merupakan salah satu roman klasik yang kemunculannya menimbulkan kegemparan. Bahkan sampai ditolak oleh Balai Pustaka dengan alasan isi ceritanya mengandung banyak kritik sosial dan politik yang bisa memicu konflik dalam masyarakat.  

Armijn Pane selaku penulis buku ini membuat sebuah karya yang mampu membawa pembacanya seolah masuk dalam perasaan emosional para pelakon dalam cerita. Meskipun inti dari cerita ini hanyalah sebuah cinta segitiga, namun di dalamnya ada beberapa konflik kecil yang sebenarnya mengandung makna yang sangat mendalam, terutama bagi negara Indonesia yang saat itu masih dalam suasana pascakemerdekaan.

Penggunaan gaya bahasa kuno dan masih bercampur dengan bahasa Belanda (negara yang kolonialisme di Indonesia) menambah estetika dari novel ini. Maka tak heran banyak perbendaharaan kata yang terdengar asing jika diucapkan saat ini, seperti prognose, rouge, realiteit, dll. Bagi yang tidak memahami kosakata seperti bisa dipastikan akan sulit juga untuk memahami beberapa bagian ceritanya. 

Cerita ini memiliki tiga tokoh sentral, yaitu Dokter Sukartono (Tono), Sumartini (Tini), dan Siti Rohayah (Yah). Ketiganya berada dalam konflik cinta segitiga yang rumit yang dibumbui dengan masalah dan rahasia masing-masing yang semakin memperburuk keadaan. 

Sukartono adalah seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Dia terkenal dokter yang dermawan dan penolong. Dia termasuk seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun begitu Tono tidak pernah benar-benar merasakan cinta dari istrinya selayaknya sebuah keluarga yang harmonis. Kenikmatan hidup yang bersifat privasi justru dia rasakan dari wanita lain yang bukan istrinya.  

Sumartini  perempuan modern yang mempunyai masa lalu yang kelam karena bebas bergaul. Salah satu kisahnya yang memilukan adalah hubungannya yang gagal dengan kekasihnya sebelum menikah dengan Tono.  Dia selalu merasa kesepian karena kesibukan suaminya yang tak kenal waktu dalam mengobati orang sakit sehingga melupakan dan membiarkannya di rumah seorang diri.

Siti Rohayah juga merupakan perempuan yang masa lalunya kelam akibat perceraian. Namun, perbedaannya dia tidak seberuntung Sumartini dalam masalah ekonomi dan status sosial. Rohayah menjadi perempuan “malam” dan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penyanyi keroncong dengan nama Siti Hayati.

Kisah ini dimulai dari Dokter Sukartono dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar, serta lincah. Perempuan itu bernama Sumartini atau panggilannya Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono atau Tono tidak mencintai Sumartini. Demikian pula sebaliknya, Tini juga tidak mencintai Dokter Sukartono. Mereka berdua menikah dengan alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantikan, kecerdasan, serta mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi, keduanya tidak saling mencintai. 

Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar. 

Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian dirumah. Dia betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini. Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter yang sangat dermawan.

Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin memicu percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono sangat egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut, maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari mereka bertengkat. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.

Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut. Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih bersekolah di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya. 

Pada saat itu Yah sudah menjadi janda. Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup dengan suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit. 

Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya. Dia sangat mahir dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta. Pada awalnya Dokter Sukartono tidak tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya. Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua. 

Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengetehui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya. 

Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan suaminya.

        Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai. 

Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia. Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia. 

Beberapa konflik yang muncul bisa menimbulkan opini dalam masyarakat, bahwa apabila sebuah kehidupan rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami-istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian. Hal inilah yang ditakutkan dalam kehidupan seseorang, manakala membangun rumah tangga tanpa didasari cinta antara suami isteri.

Dalam novel ini bisa dilihat bahwa hubungan antara Tono dan Tini bukanlah selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Terkesan hanya menjalani sebuah hidup dengan status sosial semata, sementara masalah hati tidak diabaikan dalam bahtera rumah tangga mereka. Sehingga Tono pun lari dalam pelukan Rohayah.

Novel ini juga mengandung kritik sosial kepada para perempuan yang masih saja memandang seseorang hanya dari status sosialnya, seperti sikap Tini saat bertemu dengan Rohayah. Selain itu sindiran juga terlihat pada bagian Tini yang sedang digosipkan oleh teman-teman wanitanya. Seolah ingin menunjukan bahwa masih banyak wanita yang hobi bergunjing. 

Keunikan dari novel ini adalah adanya kritik tentang keadaan politik beberapa tahun sebelumnya. Contohnya seperti awal berdirinya Boedi Oetomo yang para anggotanya berasal dari kalangan ningrat dari suku Jawa. Secara gamblang, Armijn Pane melancarkan kritik bahwa tujuan Boedi Oetomo ketika itu bukanlah kemerdekaan secara menyeluruh, tetapi  menjaga agar budaya Jawa tidak dipengaruhi oleh budaya Belanda. Maka  secara tersirat Armijn Pane tidak menyetujui bahwa Boedi Oetomo disebut sebagai tonggak kebangkitan bangsa. 

Selain itu, ada juga gambaran bahwa orang yang berjuang demi kepentingan bangsa justru tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan yang mulia. Tetapi justru dianggap menyusahkan dan tidak berguna selama tidak menghasilkan uang. Seperti pada tokoh Hartono yang sebenarnya bukan tokoh sentral, tetapi kisahnya mengandung sebuah makna yang mendalam. Hartono yang rela meninggalkan kuliah dan kekasihnya demi perjuangannya bersama tokoh revolusioner Ir. Soekarno dan mengabdi pada bangsa justru mengalami banyak cacian dari orang-orang di sekelilingnya karena dianggap tidak menguntungkan. Karena pandangan seseorang yang sukses hanya dilihat dari materi semata. 

Novel Belenggu menyimpan banyak makna yang mendalam di setiap konflik yang dimuculkan. Kritik sosial yang tajam dalam kisah ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi para generasi muda dalam menjalani kehidupan yang terhegemoni oleh sebuah sistem yang menindas. Dan semua itu berlaku terhadap semua orang, baik itu tua-muda, kaya-miskin, dan juga pria-wanita. 

Setelah kita membaca Roman Belenggu, karangan Armijn Pane ini, akan diperoleh pengalaman-pengalaman yang akan berdampak bagi kejiwaan seseorang dan dapat sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca karya sastra ini. Satu hal pengaruh dari membaca Roman Belenggu ini akan melahirkan sebuah opini di masyarakat, bahwa apabila sebuah kehidupan rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami-istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian.

Hal inilah yang ditakutkan dalam kehidupan sesorang, manakala membangun rumah tangga tanpa didasari cinta antara suami isteri. Karena tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur, tidak saling berbicara dan bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama – sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing – masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri, sering salah paham dan sukar bertengkar.

           Itulah sebabnya, banyak di masyarakat untuk menghidari kawin paksa, kawin karena dijodohkan dan kawin tanpa dasar cinta. Karena kalau perkawinan tanpa dasar cinta akan membentuk keluarga yang tidak harmonis dan tidak bahagia. Dan orang akan menghindari hal ini sejauh-jauhnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar