Selasa, 20 Maret 2012

Analisis Novel "Student Hidjo" Karya Marco Kartodikromo


Cinta Tumbuh dengan Seiringnya Waktu
Karya: Hartana Adhi Permana





Student Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Buku ini diterbitkan kembali dengan dua versi pada tahun 2000, oleh Aksara Indonesia dan Bentang, keduanya penerbit dari Yogya. (wikipedia)

Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda. Hingga menjadi masuk akal jika novel ini kemudian dipinggirkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka, bahkan sampai saat ini.

Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia.

Novel yang menggambarkan tentang kehidupan kaum priyayi Jawa dengan berbagai kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, seperti kemudahan menimba pendidikan. Suasana masa-masa pergerakan, terutama Sarekat Islam, yang merupakan organisasi masyarakat yang sangat popular.

Kisah diawali dengan rencana orangtua Hidjo menyekolahkan ke Belanda. Ayah Hidjo, Raden Potronojo, berharap dengan Hidjo ke Belanda, dia bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial. Berbeda dengan sang ayah, sang ibu Raden Nganten Potronojo khawatir melepas anaknya ke negeri yang dinilai sarat "pergaulan" bebas.

Pendidikan di Belanda ternyata membuka mata dan pikiran yang sangat besar bagi Hidjo. Hidjo sang kutu buku yang terkenal "dingin" dan mendapat julukan "pendito" sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje, putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hidjo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hidjo untuk memutuskan tali cinta pada Betje.

Persoalan menjadi sedikit berliku ketika perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hidjo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hidjo tidak langsung setuju pada pilihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya.

Rumus perjodohan berubah. Hidjo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia. Betapa cerita perjodohan tidak selalu berakhir dengan tangis dan sengsara. Juga ditampilkan, bahwa mentalitas Nyai tidak selalu ada dalam diri inlander, yaitu ketika Woengoe menolak cinta Controleur Walter.

Selain itu, pengalaman Hidjo di Negeri Belanda telah membuka matanya. Ia melihat bahwa di negerinya sendiri bangsa Belanda ternyata tidak "setinggi" yang ia bayangkan. Hidjo menikmati sedikit hiburan murah ketika dia bisa memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah tumpangan yang mustahil dilakukan di Hindia.

            Tentunya banyak kesamaan dari strukturnya antara novel “Student Hijau” dengan novel “Siti Nurbaya” yang telah kita analisis minggu lalu. Di sini saya akan mencoba mencari persamaan dan perbedaan dari strukturnya antara kedua novel ini. Persamaannya: Keduanya sama-sama berbentuk novel. Sama-sama berbahasa Melayu dan mampu menarik perhatian dunia kesusastraan. Keduanya bertemakan perjodohan, namun Student Hidjo berakhir bahagia. Dalam novel ini Hidjo dijodohkan dengan Woengoe, lalu Widojo dengan Biroe. Mereka semua saling mencintai satu sama lain. Sedangkan Siti Nurbaya berakhir tragis. Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan Datuk Maringgih terpaksa melakukan hal tersebut untuk melindungi ayahnya. Hal ini membuat akhir cerita cintanya menyedihkan. Dalam kedua novel tersebut, sama-sama menonjolkan lokalitas dari Indonesia dan memaparkan kesantunan rakyat pribumi terhadap orang lain. Sehingga hal ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Sedangkan perbedaan dari strukturnya kedua novel ini adalah Student Hidjo terbit pada tahun 1918. Siti Nurbaya terbit pada ahun 1922. Novel Student Hidjo karya Marco Kartodikromo yang merekam semangat zaman kala itu, bersifat pergerakan bumiputera mencari sikap politik yang baru. Pada awal dari cerita novel ini menceritakan tentang Hidjo, intelektual pribumi. Selain mengungkapkan kisah percintaan antar tokohnya, Mas Marco pun secara lugas menunjukkan keberpihakannya kepada kaum pribumi. Di sini  Ia memunculkan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia. Siti Nurbaya mengugkapkan keadaan sosial yang mengharuskan orang miskin tunduk kepada orang yang banyak uang. Hal ini dilakukan agar mereka dapat meminjam uang kepada Datuk  Maringgih.

Selain itu, ada nilai moral yang terkandung dalam kedua novel ini diantaranya dalam novel Student Hidjo: Jika belajar harus sungguh-sungguh  jangan  mudah tergoda oleh lingkungan. Kebaikan orang harus dibalas dengan kebaikan pula. Cinta dapat tumbuh seiring berjalannya waktu. Sedangkan novel Siti Nurbaya antara lain; Harus mampu mengorbankan apa pun demi orang yang dicintainya. Menjadi lintah darat sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sedangkan untuk latar belakang kesusastraan masing-masing novel ini yaitu novel Student Hidjo dianggap sebagai sebuah Sastra Perlawanan. Sastra yang melawan arus besar sastra Balai Pustaka ketika itu. Namun perkembangan novel ini mendapat hambatan. Student Hidjo tidak lulus sensor dari penerbit Balai pustaka. Hal ini membuat Student Hidjo dianggap bacaan liar atau kesusastraan Indonesia yang tidak resmi. Sastra ini berjenis realisme sosialis.

Student Hidjo mengguncangkan dunia kesusastraan saat itu. Marco Kartodikromo dengan karyanya Student Hidjo mengkontraskan kehidupan di Nederland dan Hindia Belanda.

Bahkan ada penerbit buku Indonesia Boekoe (I:Boekoe) memasukkan karya ini ke dalam bukunya Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut dibaca Sebelum Dikuburkan. Dalam buku ini mendapat penilaian dari Ismanto, Anton Kurnia, Muhidin M Dahlan, dan Taufik Rahzen. Student Hijo yang ditulis dengan bahasa Melayu rendah atau melayu pasar. Student Hidjo merupakan sebuah karya hasil hubungan kausal antara estetika dan kehidupan sosial, antara kesadaran dan basis material.

Sedangkan untuk novel Siti Nurbaya merupakan hasil karya dari Marah Rusli yang lahir di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung pada tanggal 17 Januari 1968. Pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1922. Novel  ini menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain dalam Sastra Indonesia Modern. Penilaian tersebut berdasarkan pemakaian bahasa melayu dan gayanya tersendiri. Hal ini mempermudah pembaca mengerti isi critanya. Novel ini berhasil merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969. Dalam Siti Nurbaya, menekankan kehidupan masyarakat Padang, Marah Rusli pun merubah adat yang berlaku pada masa itu yang dianggap melanggar hak asasi manusia.

Student Hidjo tentu saja tidak lulus sensor dari penerbit Balai pustaka yang selama ini menentukan kesusastraan Indonesia yang “resmi”. Student Hidjo merupakan karya sastra yang melawan arus besar sastra Balai Pustaka ketika itu. Juga bagaimana sastra realisme sosialis lahir dari perlawanannya terhadap karya sastara borjuis. Maka tidak salah, jika Student Hijo serta karya sastra Marco Kartodikromo lainnya disebutkan sastra perlawanan, atau istilah Eka Kurniawan dalam pengantar Dongeng Dari Sayap Kiri sebagai Sastra Berpihak.

Tidak heran jika penerbit buku Indonesia Boekoe (I:Boekoe) memasukkan karya ini ke dalam salah satu bukunya “Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut dibaca Sebelum Dikuburkan”, meskipun pemilihan tidak terlepas dari subjektivitas. Dalam buku ini, subyektivitas itu dibangun oleh empat orang, yaitu An Ismanto, Anton Kurnia, Muhidin M Dahlan, dan Taufik Rahzen. Sedangkan sebagian besar dari buku-buku yang hinggap dalam pikiran dapat ditolak atau diterima dengan menggunakan beberapa ukuran. Beberapa kriteria yang dipakai untuk memutuskan suatu karya sastra ke dalam kelompok buku yang wajib dibaca adalah Pertama, tentu saja, buku itu adalah buku karya sastra Indonesia—dalam pengertian yang paling luas, yang artinya akan mencakup buku-buku sajak, novel, esei, catatan perjalanan, biografi, cerita pendek, lakon/drama, fiksi, cerita silat, komik, dan sebagainya. Dengan atribut “Indonesia” dimaksudkan bahwa buku itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu Tinggi dan/atau Melayu Rendah/Pasar/Melayu Lingua Franca. Student Hijo yang ditulis dengan bahasa Melayu rendah /melayu pasar tentu masuk ke dalam kriteria yang pertama ini

Kedua, ia harus “menggoncang” kesusastraan Indonesia. “Goncangan” itu harus timbul sebagai akibat dari daya besar yang dimilikinya sebagai karya sastra. Student Hidjo tentunya sangat memenuhi kriteria yang kedua ini. Tentunya kritia ini adalah kriteria yang lebih utama bila dibandingkan dengan kriteria yang pertama. Novel yang berani mengkontraskan kehidupan di Nederland dan Hindia Belanda mampu menggoncang kesusastraan Indonesia. Marco Kartodikromo dengan karyanya Student Hijo memang terlalu jauh bila dibandingkan dengan Maxim Gorki. Tetapi setidaknya keduanya memiliki persamaan yaitu memiliki jiwa penolakan dan sikap untuk melakukan perlawanan terhadap sastra dan seni pada umumuya yang borjuis, kelas atas, megah. Tak lain karya-karya Balai Pustaka.

Dengan isinya yang melawan pemeritahan kolonial Belanda, Student Hijo tentu saja disebut sebagai “bacaan liar”. Penelitian mengenai “bacaan liar” dalam Student Hijo pernah dilakukan secara komprehensif oleh Paul Tickell. Tickell menguraikan struktur analisis antar teks, yakni Student Hidjo sebagai sebuah karya politik yang ditulis oleh seorang penggerak pergerakan dengan Salah Asoehan yang ditulis oleh Abdoel Moeis dan diterbitkan oleh Balai Poestaka. Dalam tesisnya ini Tickell berhasil mengungkapkan hubungan "bacaan liar" dengan pembacanya dan sekaligus membeberkan value (nilai) yang terkandung di dalam teks Student Hidjo. Artinya, Student Hidjo merupakan sebuah karya hasil hubungan kausal antara estetika dan kehidupan sosial, antara kesadaran dan basis material. Selain itu Tickell juga berhasil menjawab bagaimana perspektif negara kolonial dalam memandang "bacaan liar." Kekuasaan kolonial memberi pandangan dan makna untuk "bacaan liar" sebagai bacaan yang mengagitasi rakyat untuk melakukan "pemberontakkan," sehingga penulisnya pun diberi "cap" pengarang liar.

Student Hijo, setidaknya menegaskan dirinya sebagai sastra berlawanan ketika karya Mas Marco ini menyentuh dan merupakan representasi masyarakat Indonesia ketika itu yang dijajah Belanda. novel ini dengan sangat baik telah mencatat hiruk-pikuk suasana perjuangan bumi putera pada masa awal. Cinta, pendidikan, politik, sosio-kultur, dan bahkan semangat nasionalisme terjalin rapi dalam setiab babnya. Maka tidak berlebihan jika Nova Christina/Litbang KOMPAS memberi komentar pada rubrik pustakaloka (KOMPAS, Sabtu, 21 September 2002) bahwa, “Novel ini sebetulnya sudah membuka suatu soal bahwa kesusastraan bukan sekadar penghibur, tetapi suatu wacana politik dan sosial yang mengemban tugas menembus ruang-ruang publik. Pada gilirannya kesusastraan adalah jalan menuju pembebasan dari belenggu ketertindasan.” Novel inipun lahir sebagai sikap politik dari Mas Marco sendiri yang merupakan aktivis revolusioner yang berpindah dari penjara ke penjara. Selain Student Hijo, Sama Rata Sama Rasa, yang merupakan syair terkenal yang menyuarakan kebencian pada kolonial adalah karyanya yang lahir di penjara. Sikap politik dan perjuangannya melawan kolonial Belanda mengharuskannya ditahan dan dibuang di Boven Digoel dan menghembuskan nafas terakhirnya disana. 

Di antara karya-karya Marco Kartodikromo, Student Hijo adalah karya sastra yang paling monumental. Namun dalam buku Lintasan Sastra Indonesia Modern, Jacob Sumardjo mengatakan bahwa karya Marco Kartodikromo yang terpenting adalah Rasa Merdika atau juga disebut Hikayat Soedjanmo. Roman ini menunjukkan adanya pengaruh politik dan komunisme dalam diri Mas Marco. Sebelum menulis Student Hijo, Marco Kartodikromo menerbitkan sebuah novel kontroversial, Mata Gelap, novel ini penuh dengan pornografi sehingga memicu reaksi keras dari masyarakat.

Analisis Novel "Siti Nurbaya" Karya Marah Rusli


Cinta dalam Ruang Terbatas
Oleh: Hartana Adhi Permana




Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai), adalah roman yang paling populer di antara roman-roman dan novel yang pernah terbit di Indonesia. Pengarangnya seorang sastrawan kelahiran Padang 7 Agustus 1889, Marah Rusli. Penulis fiksi Indonesia dengan gaya yang kuat. Romannya penuh dengan gagasan yang mendahului zaman dia hidup. Dia menggugat kekolotan kaum bangsawan, keburukan poligami, serta masalah-masalah sosial lain dalam lingkungannya guna melahirkan sebuah reformasi sosial. Buku ini pertama kali terbit tahun 1922 oleh Balai Pustaka. Karena popularitas buku ini, maka tahun-tahun awal terbinya disebut zaman Siti Nurbaya.

Pengarang ini telah menamatkan SD di Padang pada tahun 1904 dan menamatkan Sekolah Raja (Hoofdenscool) di Bukit Tinggi pada tahun 1910. Setelah tamat Sekolah Dokter Hewan di Bogor pada tahun 1915, ia diangkat menjadi adjunct dokter hewan di Sumbawa Besar, kemudian (1916) menjabat Kepala perhewanan di Bima. Tahun 1918 pindah menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung, kemudian mengepalai daerah perhewanan di Cirebon. Tahun 1919 menjabat kepala daerah perhewanan di Blitar, tahun 1920 menjadi asisten leraar Kedokteran Hewan Bogor, tahun 1921 menjadi dokter hewan di Jakarta, tahun 1925 pindah ke Tapanuli. 

Sejak tahun 1929 sampai datang revolusi 1945 menjadi dokter hewan kotapraja Semarang. Selama revolusi tinggal di Solo, kemudian bekerja pada ALRI di Tegal. Tahun 1948 diangkat menjadi lektor di Fakultas Dokter Hewan Klaten dan dalam tahun 1950 kembali ke Semarang. Sejak tahun 1951 menjalani masa pensiun di Bogor, tetapi masih tetap menyumbangkan tenaganya di Balai Penelitian Ternak Bogor sampai akhir hayatnya.

Di samping profesinya sebagai dokter hewan, Marah Rusli terkenal pula sebagai sastrawan karena romannya yang berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai).

Siti Nurbaya adalah masterpiece Marah Rusli. Bisa dipastikan tidak satupun orang Indonesia modern yang tidak mengetahui roman setebal 271 halaman ini. Bahkan istilah Siti Nurbaya dicerap kedalam bahasa Indonesia keseharian sebagai majas yang merujuk pada bentuk perkawinan yang dipaksakan. Bahkan di Padang, sosok Siti Nurbaya dihadirkan secara riil melalui penamaan sebuah jembatan dan sebuah makam yang diyakini adalah makam tokoh roman yang bersangkutan.

Siti Nurbaya telah hadir di sekolah-sekolah sejak pertama diterbitkan tahun 1920 oleh Balai Pustaka. Isinya tentang kisah cinta melodramatis antara Siti Nurbaya & Syamsul Bahri. Namun orang tua Siti Nurbaya memilih menikahkan anaknya dengan Datuk Maringgih. Roman ini dipadu kuat dengan kritik sosial pengarang terhadap situasi adat yang mengungkung Kemerdekaan Perempuanhttp://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=mcf0b-20&l=as2&o=1&a=9794596728 di zaman itu. Marah Rusli kemudian wafat 17 Januari 1968.

Di Padang, Siti Nurbaya  hadir seperti sosok riil. Ada jembatan atas namanya, ada pula makam lengkap dengan cungkup dan kelambunya. Yang menarik beberapa lama setelah roman itu lahir terjadi perubahan dalam masyarakat Minangkabau terutama berkaitan dengan kawin paksa. Roman ini kemudian menjadi counter culture, yang mengejek setiap orang tua ketika hendak memaksa anak perempuannya kawin dengan perjodohan paksa: ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Bahkan 80 tahun kemudian Dewa 19 pernah membuat lagu berjudul “Cukup Siti Nurbaya” yang juga terinspirasi oleh roman Siti Nurbaya.

“Roman Siti Nurbaya berkisah tentang percintaan melodramatis Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri. Namun orang tua Siti tak menyetujui. Siti pun menikah dengan Datuk Maringgih orang tua kaya berhati licik. Siti akhirnya meninggal diracun anak buah Datuk Maringgih. Syamsul pun mati. Siti Nurbaya menarik karena roman ini mampu membangun pemahaman baru akan kegelisahan perempuan terhadap adat dan kebudayaan yang mencengkram mereka. Cerita ini sekaligus menggambarkan pengorbanan perempuan Siti Nurbaya  untuk kedua orangtuanya dengan menikahi Datuk kaya demi melunasi hutang orang tuanya.” (tempo)

Bagi yang tidak pernah membaca roman ini secara utuh, menganggap bahwa kisah Siti Nurbaya adalah kisah kawin paksa. Yang sebenarnya adalah terpaksa kawin. Siti Nurbaya terpaksa kawin dengan seorang dengan datuk Maringgih demi membayar hutang orangtuanya.

Kisahnya, Siti Nurbaya dan Samsulbahri sejak kecil sudah berteman bahkan satu sekolah karena rumah mereka berdekatan. Ketika tumbuh menjadi remaja, di antara keduanya tumbuh rasa saling mencintai. Hubungan dua remaja ini mendapat restu dari orangtua kedua belah pihak. Kemudian Samsulbahri melanjutkan studinya di Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.

Sementara itu, ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman, mengalami kebangkrutan dalam usaha perdagangannya. Karena itu, ia terlilit hutang pada Datuk Maringgih, seorang lanjut usia nan kaya tapi sangat kikir. Dengan segala cara Datuk Maringgih menagih piutangnya pada Baginda Sulaiman, namun tidak bisa dibayar. Karena tidak bisa membayar hutang, Baginda Sulaiman diminta untuk menyerahkan anaknya Siti Nurbaya untuk menikah dengan Datuk Maringgih.Siti Nurbaya pun terpaksa dinikahi si kakek Datuk Maringgih.

Suatu hari, Samsulbahri mudik dari Jakarta. Ia pulang berlibur ke kampungnya di Padang. Ia sudah tahu kalau Siti Nurbaya sudah menikah dengan si kakek Datuk Maringgih. Namun ia berusaha untuk bisa bertemu dengan mantan kekasihnya Siti Nurbaya. Maka keduanya melakukan pertemuan secara rahasia dan akhirnya diketahui oleh Datuk Maringgih. Akibatnya, terjadi pertengkaran. Mendengar kejadian itu, ayah Samsulbahri yang kebetulan seorang penghulu di Padang, merasa telah dipermalukan oleh anaknya. Samsulbahri kemudian diusir untuk kembali ke Jakarta. Mengetahui Samsulbahri telah kembali ke Jakarta, Siti Nurbaya secara diam-diam menyusulnya. Namun tindakan itu diketahui Datuk Maringgih melalui kaki tangannya. Dengan berbagai fitnah dan memperalat polisi, kaki tangan Datuk Maringgih berhasil membawa pulang Siti Nurbaya ke rumah Datuk.

Akibat tidak tahan dengan kenyataan hidupnya sebagai suami Datuk Maringgih, Siti Nurbaya kemudian mati setelah memakan lemang beracun yang sengaja dijajakan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Berita kematian itu sampai juga ke telingan Samsulbahri. Karena kecewa dan putus asanya, Samsulbahri mencoba bunuh diri namun tidak berhasil. Namun, ia harus meninggalkan bangku sekolahnya di Jakarta dan masuk dinas militer.

Pada suatu waktu, terjadi kerusuhan di Padang karena banyaknya rakyat yang tidak mau membayar pajak yang ditagih pemerintah Belanda. Untuk mengatasi kerusuhan itu, pemerintah Hindia Belanda mengutus pasukan pengamanan dari Jawa, sehingga terjadi pertempuran sengit. Ternyata pemberontakan itu didalangi oleh Datuk Maringgih. Tak disangka, Datuk Maringgih bertemu dengan Samsulbahri yang berpangkat dan nama Letnan Mas. Samsulbahri berhasil menembak Datuk Maringgih. Sialnya, sebelum Datuk Maringgih meregang nyawa, ia sempat menebas Letnan Mas sehingga harus dirawat di rumah sakit. Dalam perawatan itu, Letnan Mas meminta dokter agar memanggil Penghulu Kota Padang bernama Sutan Mahmud Syah. Di rumah sakit, Letnan Mas menceritakan riwayatnya lalu menghembuskan nafas terakhir.
Setelah meninggal, Sutan Mahmud Syah baru tahu kalau Letnan Mas sebenarnya adalah anaknya, Samsulbahri. Karena kesal dan sedih, pada beberapa hari kemudian Sutan Mahmud Syah meninggal dunia.

Buku yang berjudul Siti Nurbaya ini berhasil menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain yang dianggap orang sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Modern. Penilaian itu tidak didasarkan pada temanya, tetapi berdasarkan pemakaian bahasa dan gayanya yang tersendiri. Buku ini menggunakan bahasa melayu. Oleh karena itu, orang melayu pasti akan lebih mudah membaca dan segera mengerti isinya. Karena terkenalnya sampai-sampai zaman itu dinamai zaman Siti Nurbaya.

Roman karyanya ini berhasil pula merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra, yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969.

Dalam karya-karyanya berjudul Siti Nurbaya, Marah Rusli ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Pelaku utamanya pada roman ini adalah Siti Nurbaya, Samsulbahri, dan Datuk Maringgih.

Membaca roman Siti Nurbaya kita diajak mengikuti liku-liku kehidupan masyarakat Padang pada masa itu, khususnya kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia, Siti Nurbaya dan Samsulbahri.

Pengarang mengajak kita untuk memetik beberapa nilai moral dari romannya yang terkenal ini, antara lain :

- Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya.

- Bila asmara melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya cinta.

Demikianlah cinta yang murni tak akan padam sampai mati. 

- Bagaimanapun juga praktek lintah darat merupakan sumber malapetaka bagi kehidupan keluarga.

- Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan yang tak terhingga.

- Dan kebenaran sesungguhnya di atas segala-galanya.

- Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup. 

Tetapi yang saya sayangkan adalah novel ini seringkali dijadikan bahan untuk menyerang konsep dalam Islam yang memperbolehkan poligami, padahal jika kita pikir dengan akal sehat sebelum datangnya Islam seorang laki-laki apalagi yang memiliki kedudukan tinggi (bangsawan) biasanya memiliki banyak selir, bahkan raja-raja di Tiongkok ada yang memiliki lebih dari seribu selir. Islam justru mengatur masalah-masalah tersebut.

Analisis Novel "Azab dan Sengsara" Karya Merari Siregar


Kasih Tak Sampai
Oleh: Hartana Adhi Permana



Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan Sengsara ini sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka, 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting.
 
                Sebelum masuk kepada pembahasan analisis novel ini, saya akan memaparkan sinopsis Novel “Azab dan Sengsara” ini terlebih dahulu sebagai berikut.

Di sebuah kota kecil, Sipirok yang berada di wilayah Tapanuli pada Pegunungan Bukit Barisan terdapat sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdari dari seorang ibu yang sudah janda, Nuriah namanya. Dia memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang gadis, Mariamin yang memiliki paras cantik dan berbudi pekerti halus. Anak kedua laki-laki yang berusia empat tahun.

Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat Sungai Sipirok. Mereka hidup bertiga penuh kesengsaraan dan kesedihan yang ditanggung bersama-sama. Semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan putus asa. Semua permasalahan hidupnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kisah sedihnya bermula dengan kematian ayahnya Sutan Barigin. Di saat itu kebagiaanya sebagai seorang gadis terenggut secara tiba-tiba. Sebelum ayahnya meninggal kehidupan mereka berada dalam kecukupan, tak kurang suatu apa pun. Rumah bagus, sawah yang luas, binatang ternak juga banyak. Semua harta yang banyak itu akhirnya lenyap habis. Harta yang habis itu diakibatkan oleh prilaku Sutan Barigin itu sendiri. Sutan barigin memiliki sifat tamak, rakus, keras kepada, tidak peduli pada istri serta mudah kena hasutan orang lain. Harta warisan yang seharusnya dibagikan kepada saudara yang berbeda nenek yaitu Baginda Mulia, Sutan Barigin tidak mau membaginya. Atas hasutan Marah Sait, Sutan Barigin malah memperakanya ke pengadilan. Yang keji lagi Sutan Barigin tidak mau mengaku saudara pada  Baginda Mulia. Sebenarnya Baginda Mulia mengajak berdamai saja, berapapun harta warisan yang akan diberikan Sutan Barigin kepadanya akan diterima saja. Sutan barigin tetap tidak mau dan ingin memperkarakan saja.

Sidang perkara warisan di gelar di Sipirok, semua biaya ditanggung oleh Sutan Barigin. Sutan Barigin kalah karena Baginda Mulia adalah saudara Barigin dan berhak separuh atas warisan neneknya. Sutan Barigin naik banding lagi ke pengadilan yang lebih tinggi di Padang. Untuk perkara perlu biaya yang besar, sawah dan ternak terjual habis. Yang untung adalah Marah Sait mendapat jatah uang juga dari Sutan Barigin. Sedangkan perkara dimenangkan oleh Baginda Mulia. Perkara dilanjutkan ke Jakarta, biaya lebih besar lagi. Sutan Barigin tetap kalah sampai akhirnya barulah ia sadar dan menyesal tidak mau menerima saran istri dan Baginda Mulia untuk berdamai. Sesal kemudian tidak berguna. Kesengsaraan dan kemalaratan saja yang dierima Sutan Barigin dan anak keluarga ikut menanggung azab dan sengsara. Sampai pada nasib terakhir Sutan Barigin terkena penyakit sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawa orang yang loba dan tamak itu.

Kesedihan Mariamin disusul oleh kepergian kekasihnya Aminudin ke kota Medan, hingga hancurlah semua cita-cita dan harapan yang telah terbina sejak lama. Di Medan Aminudin bekerja di perkebunan tembakau. Ia  mencoba menyurati Mariamin. Bahkan dalam suratnya mengatakan hendak meminang Mariamin untuk dijadikan istrinya.

Aminudin menyuruh ayahnya agar melamar Mariamin kepada ibunya dan segara di antarkanya ke Medan. Tapi ayah Aminudin malah membawa perempuan lain ke Medan dengan alasan Mariamin bukan jodoh Aminudin. Pendapat itu bersumber dari seorang dukun yang dimintai pendapat ayahnya Aminudin.. Dengan sangat terpaksa, kecewa dan menyesal Aminudin menika dengan perempuan yang tidak dicintainya karena cintanya hanya kepada Mariamin. Rasa bersalah pada Mariamin ia sampaikan lewat surat serta permohonan ma’af kepada keluarganya. Semua itu bukan kehendak Aminudin untuk meninggalkan Mariamin.

Di Sipirok Mariamin menikah dengan Kasibun atas anjuran ibunya. Kasibun seorang laki-laki hidung belang yang mengidap penyakit kelamin. Mariamin di bawa juga ke Medan oleh Kasibun. Di Medan Mariamin sempat bertemu dengan Aminudin. Di Medan pula ia merasakan penyiksaan dari Kasibun karena ia selalu menolak hasrat berahinya. Mariamin takut penyakit Kasibun menular kepadanya.

Tidak kuat dengan siksaan Kasibun, Mariamin pergi meninggalkan Medan dan pulang kembali ke Sipirok. Di Sipirok inilah berakhirnya penderitaan dan kesengsaraan Mariamin. Gadis yang suci dan bernasib malang itu menemui ajalnya. untuk mengakhiri ajab dan kesengsaraan di dunia yang fana ini. Arwahnya yang suci naik ke tempat yang mahamulia, yang disediakan Tuhan untuk hamba-Nya yang percaya dan taat kepada-Nya.

Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka—yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngarora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.
 
Sejauh ini, studi terhadap novel Azali dan Sengsara, baru dilakukan pada tingkat sarjana muda, sebagaimana yang tampak dari penelitian Ahmad Tohir (UGM, 1969), Dzukifli Salleh (FSUI, 1962), dan Yacob bin Mohamed Tara (FS Unas, 1980).
 
Novel yang berjudul “Azab dan Sengsara” ini cukup sesuai dengan keadaan jaman (tahun 1920-an), yaitu ketika banyaknya kejadian kawin paksa/perjodohan atas kehendak orang tua bukan atas dasar cinta. 

Dilihat dari segi estetika (keindahan), tema cerita ini cukup mengandung unsur-unsur keindahan. Ceritanya diungkapkan dengan gaya yang sangat menarik. mengungkapkan kisah-kasih dua anak manusia yang yang sangat memilukan, karena keadaan tidak menghendaki mereka bersatu dan hidup bahagia, sehingga kesengsaraan-kesengsaraanlah yang kerap kali mereka terima. Novel ini pun mengandung unsur-unsur kebaikan, yaitu adanya kepatuhan kepada kedua orang tua, ketaatan kepada Allah, kesabaran, dan perjuangan hidup.

Dalam novel “ Azab dan Sengsara “Karya Merari Siregar ini saya menemukan beberapa tokoh yang berperan dalam novel ini diantaranya adalah sebagai berikut.

Mariamin, anaknya Sutan Barigin dan ibu Nuriah. Seoran gadis cantik, penyabar,tekun, ulet, berbudi pekerti halus dan patuh kepada orang tua. ( Azab dan Sengsara : 33 ). Aminudin, pemuda tampan kekasih Mariamin yang berbudi pekerti baik, sopan, peduli pada orang lain. ( Azab dan Sengsara : 35 ). Sutan Barigin, ayahnya Mariamin yang memiliki watak keras kepala, bengis, loba dan tamak, dengki dan khianat. ( Azab dan Sengsara :35,94 ). Nuriah, istri Sutan Barigin berwatak baik, penyabar, peduli pada sesame. ( Azab dan Sengsara :31 ). Baginda Mulia, Saudara sutan Barigin yang senenek. Wataknya baik dan penyayang pada saudara. Ibu Aminudin, adiknya Sutan Barigin. Wataknya baik, penyayang keluarga. Bapaknya Aminudin, baik, peduli keluarga. Hanya ada kelemahan yaitu suka menjodohkan anak dan suka pergi ke dukun untuk menanyakan jodoh Aminudin. Marah sait, seorang penghasut alias pokrol bambu pada Sutan Barigin. ( Azab dan Sengsara : 91,92 ). Kasibun, seorang lelaki hidung belang. Suami Mariamin yang kejam. Orang yang pintar dalam tipu daya. ( Azab dan Sengsara : 146,150,151,158 ).

Sedangkan dalam penokohanya, karakter untuk tiap tokoh, dapat diketahui melalui kajian analitik tokoh. Watak tokoh diketahui secara lansung dari pengarang yang menguraikan sifat tokohnya sebagaimana contoh kutipan yang tertulis berikut.

“Sutan Barigin orang yang telah rusak binasa budinya dari kecilnya, tiada mempunyai hati yang baik, sedikit pun tidak. Loba dan tamak, dengki dan khianat, itu sajalah yang memenuhi pikiranya. Herankah lagi kita, kalau segala jerih payah bapak Aminudin itu sia-sia belaka? Sutan Barigin tinggal bersitegang urat leher saja, perkataan siapa pun tiada diindahkanya, lain daripada asutan pokrol bamboo yang cerdik itu “ (Azab dan Sengsara : 94).

Dalam novel ini latar tempat yaitu di sebelah Timur di watasi Dolok (gunugan) Sipisan, di sebelah Barat Sibualbuali, Simagomago berdiri agak di sebelah Selatan, yang menjadi watas dan tanah Angkola. Simole-ole membatasi dataran tinggi itu pada sebelah Utara dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).

Kemudian latar waktu terjadi sekitar tahun 1920-an. Kisah ini ditulis oleh Merari Siregar yang saat itu berusia 24 tahun. Kecerdasan, daya imajinasi, serta emosional pengarang sangat kuat dan tajam dalam mengkritik adat istiadat yang ada di daerahnya. Latar budaya yang mengisahkan adat istiadat di tapanuli,  kawin paksa dan pernikahan dalam satu marga yang disukai oleh keluarga mereka seperti menikahkan anak kakak dan anak adiknya seperti kutipan.

            “ Meneurut adat orang di negeri itu ( Batak ) seharusnyalah bagi Aminudin menyebut Mariamin adik ( anggi bahasa Batak ) dan perkawinan antara anak muda ini sangat disukai orang tua kedua belah pihak.” Tali perkauman bertambah kuat, “ kata orang di kampong-kampung. Barangkali perkawinan serupa ini tiada biasa di tempat lain. “Lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya, kata peribahasa. “ ( Azab dan Sengsara : 33). 

Masalah kawin paksa dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Pikiran yang serupa itu acapkali didapati pada setengah kampong, yang kurang mengindahkan hal perkawinan serupa itu di belakang hari., Mereka memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anak perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya.” ( Azab dan Sengsara : 59-70)

Selain itu menjelaskan masalah perkauman marga seperti marga siregar,dan marga harahap, dan latar agama yaitu nilai agama yang dianut tokoh yaitu agama Islam. ( Azab dan Sengsara : 48, 83, 90, 93, 163 ).
Alur yang terdapat dalam novel Azab dan Sengsara adalah alur maju. Untuk mengetahui sebab kesengsaraan keluarga Mariamin, pengarang menyorot balik kisah kehidupan Sutan Barigin semasa kejayaan dan kekayaan yang masih melimpah. Karena suka berperkara daripada berdamai tentang harta warisan akhirnya kehidupan Sutan Baringin terbalik 180 derajat menjadi melarat, hina dan sengsara.

Cerita dilanjutkan dengan pernikahan aminudin dengan gadis lain, Mariamin dengan Kasibun yang berakhir dengan kaburnya Mariamin kembali ke Sipirok. Sebagai solusi pengarang mewafatkan tokoh Mariamin sebagai akhir cerita dan akhir kesengsaraan dunia untuk keluarga Mariamin.

Sudut pandang pengarang dalam novel “Azab dan Sengsara” yaitu pengarang menempatkan diri sebagai observer yang mengamati tiap kejadian dan peristiwa dalam cerita. Pengarang menggunakan teknik bercerita “Dia-an” artinya pengalaman diwakilkan pada tokoh-tokohnya.

Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam novel ini yaitu bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia melayu. Urutan bahasa yang runtut, enak dibaca dan mudah dipahami pembaca. Penggunaan ungkapan, gaya bahasa serta peribahasa nampak dalam tiap pengisahan.  Ungkapan ‘pokrol bambu’ untuk orang yang suka menghasut dan menipu sama artinya dengan trong kohkol nyaring bunyinya. Sarung bengkok di makan mata pisau yang bermakna orang licik,pelit, serakah akan hancur oleh sifat yang buruk itu.

Amanat dari pengarang novel yaitu selalu bersikap sabar dalam menempuh ujian yang sangat berat, jangan putus asa dari rahmat Allah. Budi pekerti yang baik dan terpuji akan membawa kebahagian hidup di di dunia dan akhirat. Sifat serakah,pelit, kejam, aniaya, khianat akan membawa kehancuran pada orang tersebut. Janganlah kita percaya pada dukun masalah perjodohan karena itu perbuatan musyrik. Manusia hanya merencanakan, Tuhan yang menentukan. Pendidikan moral, agama dan akhlak mulia lebih berharga dari harta benda.

Kisah ini mengandung tuntunan yang baik dan berguna bagi para remaja, yang biasanya gampang berputus atas jika tengah menghadapi suatu kegagalan. Karena pada umumnya mereka kurang menyadari bahwa belum berhasilnya seseorang dalam mencapai cita-cita itu sebenarnya merupakan baru ujian dan cambuk untuk lebih berhasil meraihnya.

Keunggulan dari novel “ Azab dan Sengsara “ adalah terletak dalam penekanan untuk memberikan kesadaran pada pembaca agar jangan berbuat mengikuti adat istiadat yang kurang baik. Buku ini sangat luar biasa dalam menanamkan moral dan akhlak mulia untuk pembaca. Tokoh antagonis dari Sutan Barigin dan Marah Sait membuat kita sadar terkadang sifat tersebut ada pada diri kita. Maka hindari dan jauhilah. Keunggulan lain yaitu dalam cara menyajikan kisahnya. Cerita disusun secara rapi, enak dibaca dan mudah dipahami. Penggunaan ungkapan, gaya bahasa dan peribahasa sangat menyentuh perasaan.

Namun di sisi lain tiap karya sastra ada kelemahanya juga. Konflik yang terjadi sangat sederhana. Tidak terlalu rumit sehingga pembaca tidak terlalu dituntuk untuk berpikir keras. Konfliknya tunggal yaitu berkisar perebutan harta warisan saja. Ini merupakan masalah social yang terjadi di masyarakat pada umumnya.