Selasa, 20 Maret 2012

Sastra Bandingan: Analogi dan Kemiripan


Analogi Tradisi dan Kasta Aljazair dengan Bali
dalam Novel Istri Untuk Putraku dan Cerpen Sagra
 
Oleh: Hartana Adhi Permana



 
             Novel Istri Untuk Putraku karya Ali Ghalem adalah sebuah novel alih bahasa yang berjudul A Wife for My Son yang diterjemahkan oleh Rizky Nur Zamzamy dan bahasanya disunting oleh Sapardi Djoko Damono. Ali Ghalem mengangkat perjuangan perempuan yang tidak keras dan tajam, namun caranya yang terkesan hati-hati mengusung gagasan perubahan dan modernisasi, Ghalem lebih menunjukkan bentuk pembelaan terhadap laki-laki. Laki-laki dalam teks dimunculkan juga sebagai korban budaya. Apalagi Ghalem secara tegas membedakan pemikiran tentang perubahan dan modernisasi dengan gagasan feminisme yang diangkat tokoh Fatouma. Dalam karyanya kali ini Ali Ghalem mendeskripsikannya dengan gaya yang sederhana namun cukup memikat para pembacanya, novel ini menguraikan pertentangan antara sebuah tradisi yang sudah mengakar serta dilaksanakan secara turun-menurun dan realitas modern masyarakat Aljazair. Fatiha, sebagai tokoh utama cerita ini, dipaksa kawin oleh orangtuanya dengan Husein seorang lelaki yang tak dikenalnya. Dari sini dapat disimak betapa gigih dan penuh derita perjuangan Fatiha melawan kaidah-kaidah sosial, kultural dan agama yang membelenggunya dalam "peranan wanita."

            Sedangkan Cerpen Sagra karya Oka Rusmini mengungkapkan nilai-nilai, pemikiran, suasana hati, perasaan, kepercayaan, dan adaptasi kebiasaan masyarakat Bali. Pola penceritaan dengan komposisi kematian dan kehidupan merupakan representasi perpaduan harmonis antara kreativitas pengarang dengan tatanan kehidupan dan kepercayaan masyarakat dalam latar cerita. Gaya bahasa yang dimunculkan oleh Oka Rusmini cenderung feminisme dan vulgar. Cerpen ini memunculkan kebingungan Sagra, tokoh utama, akan siapa dirinya, akan peristiwa kematian-kematian yang datang secara berturut-turut, akan kehidupan orang-orang di sekitarnya, akan tradisi yang mengikat dan membatasi gerak langkahnya. Namun justru kematian tokoh-tokoh ini secara tidak langsung menjawab konflik dalam diri Sagra serta sekaligus menghidupkan cerita.

Dalam kedua karya sastra ini menceritakan pernikahan paksa antara dua kasta yang bertentangan. Seperti dalam Novel Istri untuk Putraku yaitu pernikahan antara Fatiha yang seorang wanita kaum proletar atau rakyat kaum bawah dengan Husein seorang pria kaum borjuis atau pengusaha. Begitu pula dengan Cerpen Sagra tidak menganut tradisi pernikahan beda kasta, yaitu antara Luh Sewir dan Made Jegog yang berkasta Sudra dengan Ida Pidada dan Ida Bagus Baskara yang berkasa Brahmana. Akibatnya terjadi tragedi dan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan di luar nalar manusia menimpa mereka hasil dari kisah percintaan mereka yang tidak dilandaskan cinta. Pernikahan paksa di sini bukan kehendak dari niat dan ketulusan mereka, tetapi tuntutan tradisi di tempat mereka tinggal yang membawa mereka pada keharusan mematuhi tradisi yang sudah mengakar dan dilaksanakan secara turun temurun.

Tema dari Novel Istri Untuk Putraku adalah kehidupan. Terutama kehidupan berumah tangga. Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada seseorang apabila seseorang tersebut benar-benar tidak sanggup dan apabila kita ingin membangun sebuah kehidupan baru dengan seseorang sebelumnya kita harus saling mengenal secara mendalam agar kita tidak terjerumus ke dalam sebuah ketidakcocokan yang akan membuat kita tidak bahagia.

Begitu pula Cerpen Sagra juga mengangkat tema tentang kehidupan. Kehidupan Sagra sebagai pengasuh anak dan kehidupan rumah tangga Luh Sewir dengan Ida Pidada dan Made Jegog dengan Ida Bagus Baskara.

“Tampaknya bukan tanpa alasan Sagra dijadikan sebagai judul buku kumpulan cerpen prestisius dengan rentang tahun penciptaan 1994-2000 ini. Sagra bersama-sama Pemahat Abad, Putu Menolong Tuhan, dan Sepotong Kaki dapat dikatakan sebagai cerpen-cerpen masterpieces Oka Rusmini. Keempatnya memperlihatkan kemahiran pengarang mengelola alur yang berlapis-lapis, mengurus tema yang diturunkan dari persoalan rumit kosmologi kasta dan griya yang bagi orang Bali kebanyakan pun mengandung realitas eksklusif, dan bertutur dalam gaya kilas-balik yang memerlukan konsentrasi dan fokus yang biasanya cuma dimiliki pengarang dengan jam tulis telah teruji kumpulan cerita pendek ini tampaknya semakin meneguhkan posisi Oka Rusmini sebagai salah seorang pengarang kuat Indonesia dengan masa depan yang sangat cerah, terutama jika ia terus mengeksplorasi tema yang diangkat dari locus genus yang sangat dikuasainya.” (Horison, September 2001).

Dalam kedua karya sastra ini, pembaca dapat menemukan latar tempat yang diambil oleh kedua pengarang ini, yaitu di daerah yang menganut sistem kasta sebagai latar belakang sebuah masalah dalam cerita mereka. Istri untuk Putraku menjadikan negara Aljazair sebagai tempat pusat tinggalnya para tokoh dan berkembangnya alur cerita. Aljazair, negara bagian Afrika Utara, yang menganut sistem kasta borjuis, yaitu kaum-kaum tingkatan atas dan pemilik modal, serta kasta proletar, yaitu kaum-kaum tingkatan bawah dan buruh. Revolusi Perancis sangat memengaruhi sistem kasta setelah menjajah Aljazair. Sedangkan dalam Sagra, Oka Rusmini menjadikan Bali yang sejak zaman kerajaan di Nusantara sangat menganut pada ajaran keagamaan dan kebudayaan Hindu-Budha. Dengan begitu menguatkan latar belakang kisah pernikahan para tokoh.

            Berbicara tentang tradisi, Fatiha, dia dipaksa kawin oleh orang tuanya dengan lelaki yang tak dikenalnya. Pada saat itu Fatiha masih berusia sangat muda. Ia dapaksa kawin dengan lelaki yang belum ia kenal sebelumnya. Lelaki itu bernama Husein. Dia adalah anak sulung dari keluarga Amor. Husein adalah seorang pekerja bangunan di Paris yang usianya jauh lebih tua dari Fatiha. Sebenarnya Fatiha belum siap untuk menjadi seorang istri. Namun, ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Kesedihan Fatiha saat itu disebabkan karena ia tidak suka kawin dengan cara seperti itu. Ia tidak mau hidup seperti ibu-ibu yang hanya terkurung di rumah. Ia ingin bekerja. Menurutnya keputusan orang tuanya untuk menikahkannya adalah sebuah keputusan yang seperti zaman kuno.

            Dalam cerita ini juga menyebutkan ada sebuah tradisi yang sudah lama berakar, yaitu wanita yang sudah bersuami harus bercadar apabila mereka ingin berpergian keluar. Sebuah tradisi dari negara-negara Timur Tengah. Tapi Fatiha sangat menentang tradisi itu dan tidak akan bercadar selamanya. Seperti dalam kutipan berikut.

            “ ....Fatiha merasa terpukul lebih dari biasanya melihat wanita-wanita itu mengenakan cadar, satu hal yang pasti ialah ia tidak akan bercadar selamanaya! Baginya itu hanya lambang kehidupan wanita masa lalu. Ia ingin hidup di masa kini. Ia tidak menyetujui menyembunyikan wajah ini, kendatipun sewaktu-waktu berguna juga ... dan hanya menutupi wajah wanita!”. ( Istri untuk Putraku, 1989: 1-2).

            Akan tetapi, ketika Fatiha sudah menikah dengan Husein, Husein meminta Fatiha memakai cadar. Dan akhirnya Fatiha pun memakai cadar karena takut suaminya marah. Seperti kutipan berikut.

            “Kita pergi, dan kau pakai cadar! Apa yang kau cari? Mau dicemoohkan orang-orang dan bahkan anak kecil? Kau ingin melihat aku ditertawakan? Aku beritahu padamu, mulai hari ini kau keluar pakai cadar atau kau sama sekali tidak keluar! ....Akhirnya ia menoleh ke samping melepas dasternya dan meraih cadar yang telah disediakan oleh ibu mertuanya di lemari. Cadar yang ia pernah bersumpah untuk tetap membiarkannya di sana. Ia memakai benda itu perlahan-lahan pada wajahnya. ...... Husein mengamati Fatiha memakai cadar, tenteram hatinya. Istrinya sudah menyerah.” ( Istri untuk Putraku, 1989: 86-87).

            Cerita dalam Istri untuk Putraku ini, ditambah lagi dengan tradisi Timur Tengah memiliki tradisi pernikahan yang ekstrem, yaitu tradisi pemeriksaan keperawanan bagi gadis yang akan menikah. Menyakitkan. Begitulah yang ingin disampaikan Ali Ghalem, tradisi negara Aljazair yang menginduk pada ajaran agama Islam. Perempuan diibaratkan perhiasan yang harus selalu ditutup, dilindungi dan dijaga segala-galanya. Seperti dalam kutipan berikut.

            “ ...... Bidan tersebut menyusupkan tangannya ke pangkal paha gadis itu, menyentuh bibir, dan kemudian menyusup lebih dalam lagi. Fatiha terlonjak ke belakang dengan keras. Bidan itu bangkit dan menyuarakan teriakan kegembiraan yang segera disambut dan dikumandangkan oleh wanita-wanita lain. ........ si kecil Fatiha masih perawan. Telah dibuktikannya sejak dulu tapi perlu dibuktikan secara terbuka, diumumkan demi kehormatan keluarga. ..... Ia tahu itu adat-istiadat selama berabad-abad wanita harus tunduk kepadanya.” ( Istri untuk Putraku, 1989: 14).

            Begitu pula dengan tradisi dalam Sagra. Tradisi pernikahan kasta karena tuntutan sistem kasta di Nusantara. Ida Ayu Pidada yang keturunan kasta Brahmana mencintai Made Jegog, pria Bali berkasta Sudra. Muncul Ida Bagus Baskara, pria keturunan kasta Brahmana mencintai seorang wanita bernama Luh Sewir dari kasta Sudra. Kisah percintaan berbeda kasta antara dua makhluk yang saling mencintai ditemukan dalam alur cerita cerpen Sagra.

            Dari pernikahan Pidada dan Baskara lahirlah Ida Ayu Cemeti yang sebenarnya merupakan anak dari benih Made Jegog. Sedangkan dari pernikahan Made Jegog dan Luh Sewir melahirkan Luh Sagra, yang merupakan benih dari Ida Bagus Baskara dan sejatinya Sagra merupakan keturunan bangsawan kasta Brahwana.

Entah kenapa perempuan cantik berkasta paling tinggi ini hanya menemukan cintanya dengan lelaki berkasta paling rendah. Lelaki berkasta Brahmana sering digambarkan hanya bisa bermabuk-mabukan, main judi, sabung ayam atau meniduri segala macam jenis perempuan. Dalam cerpen Sagra, misalnya Ida Bagus Astara ditemukan mati di hotel besar dalam pelukan pelacur atau Ida Bagus Baskara yang hanya bisa berfoya-foya dan kemudian mati tenggelam di Kali Badug akibat menegak minuman keras.  

            Dalam kehidupan fisiknya, Sagra pada mulanya hanyalah perempuan sudra, anak Made Jegog dan Ni Luh Sewir. Secara biologis, Sagra lahir dari benih laki-laki bangsawan, Ida Bagus Baskara yang mencintai Sewir. Made Jegog juga sudah menanam benihnya pada rahim Ida Ayu Pidada sebelum ia menikah resmi dengan Baskara. Perkawinan resmi Jegog dan Sewir dapat dikatakan untuk menyelamatkan kebangsawanan Pidada dengan “merelakan” Baskara yang bangsawan mengawini Pidada. Sebagai akibat “perkawinan perkawinan resmi” ini, Sagra kehilangan hak kebangsawanannya sedangkan Cemeti, anak Pidada, menyandang gelar kebangsawanan dari surrogate father-nya, Ida Bagus Baskara. Peristiwa di atas merupakan kematian metafisik Sagra namun sebaliknya merupakan kehidupan metafisik Cemeti.

            Dalam kaitan kasta, dalam Istri untuk Putraku negara Aljazair, negara bagian Afrika Utara yang diceritakan dalam novel tersebut yang menganut sistem kasta borjuis, yaitu kaum-kaum tingkatan atas dan pemilik modal, serta kasta proletar, yaitu kaum-kaum tingkatan bawah dan buruh. Revolusi Perancis sangat memengaruhi sistem kasta setelah menjajah Aljazair. Dalam Sagra, sistem kasta sangat memengaruhi kehidupan dan pandangan mereka. Dalam cerita, ketika Ida Ayu Pidada dari kalangan Brahmana yang sebenarnya mencintai Made Jegog seorang turunan kaum Sudra, dan Ida Bagus Baskara yang keturunan Brahmana mencintai Luh Sewir yang seorang Sudra. Akan tetapi, bencana itu datang. Kedua perempuan itu akhirnya hamil di luar nikah. Untuk menutupi aib besar itu, akhirnya Ida Ayu Pidada menikah dengan Ida Bagus Baskara karena mereka sama-sama berkasta Brahmana, sedangkan Made Jegog menikahi Luh Sewir karena mereka sama-sama keturunan kasta Sudra.

            Dalam Sagra sistem kasta sangat dijunjung tinggi oleh mereka, sehingga dengan adanya kejadian kematian seorang anak di bak mandi. Mereka menyalahkan Sagra dengan tuduhan meninggalkan anak itu sendirian. Sampai-sampai ada usulan untuk sistem kasta dihapuskan. Mereka berpikir bahwa rentettan kematian yang menimpa keluarga mereka adalah adanya sebuah aib, yaitu pernikahan yang bukan seharusnya terjadi. Mereka takut akan kutukan bahwa kaum Brahmana harus menikah kembali dengan kaum Brahmana, sedangkan kaum Sudra tentu harus menikah dengan kasta Sudra. Seperti kutipan berikut.

            “ Mendung pertanyaan menghinggapi benak warga desa.
             Haruskah sistem kasta di Bali dihapus? Apakah kebangsawanan sudah tidak ada artinya lagi? Dan kematian beruntun yang menimba keluarga griya adalah pertandanya?Apakah kesialan yang turun-temurun mengaliri darah Luh Sagra telah menular ke orang-orang terdekatnya?” ( Sagra, 2001: 93-94).

            Kematian-kematian yang mengisi alur Sagra berbeda dengan konvensi kematian dalam cerita detektif. Kematian Prami digunakan untuk melacak dan membeberkan kehidupan dan kematian sistem dan nilai-nilai tatanan kebudayaan yang melekat pada masyarakat Bali dari generasi ke generasi. Kematian Prami ini membuka kematian-kematian yang dialami oleh tokoh-tokoh lain dari generasi yang berbeda pula. Kematian Pangeran Kodok dan Ida Ayu Manik dari generasi pertama; kematian Jegog, kedua-dua orang tuanya, dan Ida Bagus Baskara dari generasi kedua; kematian Ida Ayu Cemeti dari generasi ketiga; dan kematian Prami dari generasi keempat merupakan kematian tidak wajar yang dalam cerita detektif dikatakan sebagai kematian misterius. Hampir semua kematian fisik tokoh terjadi di sungai Badung akibat tergelincir, terseret arus, atau menenggelamkan diri sedangkan kematian kedua-dua orang tua Jegog akibat tergilas mobil truk mundur.

Ketidakwajaran kematian fisik tokoh-tokoh ini menghidupkan tatanan kebudayaan Bali sehingga perlu diadakan upacara mecaru atau meruwat desa agar penduduk tidak terkena tulah dan terbebas dari kesialan oleh dosa dan kotoran moral yang lekat pada keturunan pelakunya, dan upacara ngaben atau pembakaran mayat sehingga abunya dapat dilarung. Upacara penangkal ini dimaknai sebagai usaha penduduk desa untuk melanggengkan kehidupan fisik mereka. Kematian fisik tokoh disamping berfungsi untuk menghidupkan kehidupan fisik tokoh lain juga berfungsi untuk menggulirkan cerita.

Sastra Bandingan: Pengaruh

Antara Kehendak dan Kerelaan
Oleh: Hartana Adhi Permana


 
Untuk yang kesekian kalinya saya menemukan sebuah buku yang tidak ada bandingannya. Betapa tidak, sebuah karya fenomenal yang berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” dari seorang filsuf yang juga menghadirkan karya-karya sastra yang begitu fantastis, yaitu Sindhunata. Inti ceritanya adalah kisah pewayangan Ramayana yang mungkin tidak asing bagi masyarakat Jawa atau Sunda, yang membuat buku ini berbeda adalah tata bahasa buku ini sangat indah sekaligus puitis dan ritmis. Saya pertama kenal buku ini ketika kelas 2 SMA, hampir genap empat tahun yang lalu. Saya jatuh cinta pada buku ini ketika pertama saya membacanya. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa ada sebuah buku yang menceritakan keanggunan dan kecantikan seorang wanita tanpa menggambarkannya dengan kata-kata porno dan tidak terkesan melecehkan. Tetapi, sampai saat ini masih banyak kata-kata dalam buku ini yang kurang saya pahami maksudnya karena ditulis dalam bahasa pewayangan. Seperti kutipan berikut.

"Sinta seramping seberkas cahaya ilahi yang memancar dari mata asamaara dewa surya. Kata-katanya merdu bagai suara embun yang malas jatuh dari pucuk daun kembang-kembangan. Bunga pudak hutan buru-buru memperelok diri ketika iri menyaksikan betis dewi sinta yang menyala seperti bianglala dan bunga-bunga angsoka itu lebih memilih mati daripada harus disingkirkan dari buah dadanya yang bundar laksana sepasang matahari senja yang terbelalak dirayu asamaara ketika menyaksikan bulan sedang mandi”. (Anak Bajang Menggiring Angin, Sindhunata, 1983).

Cerita Ramayana yang kita tahu memang identik dengan latar belakang dan budaya Hindu, tapi cerita ini justru ditulis oleh Sindhunata yang seorang Jawa Nasrani. Hal ini membuat saya berpikir bahwa nilai kebaikan dan humanisme mampu melewati batas agama dan bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan bagi penganutnya. Buku ini merefleksikan kedalaman spiritual dan pemahaman hidup sang penulis terlepas dari apapun kepercayaan yang dianutnya.

Dalam epos Ramayana, Sinta selalu digambarkan sebagai wanita yang lemah dan patuh pada Rama. Rama sendiri digambarkan sebagai pria yang sempurna, ia adalah raja yang bijaksana. Simbol-simbol tersebut merupakan gambaran yang terjadi pada masyarakat dulu sampai sekarang. Simbol bahwa wanita selalu digambarkan sebagai makhluk yang lemah, yang tidak mempunyai kehendak atas dirinya. Simbol tersebut juga merupakan gambaran tatanan masyarakat sekarang yang menempatkan pria lebih tinggi dari wanita atau patriarki.

Sindhunata memiliki kepekaan luar biasa untuk menjelaskan kakawin Ramayana itu secara surealis. Alam khayangan yang tergambar di sana terasa suralis. Sebab alam itu memang belum terjamah akal manusia. Kita juga meraba-raba, apakah seperti itu suasananya? Tapi itu menjadi tidak penting, karena yang lebih penting adalah apa yang kita peroleh setelah membaca buku itu. Adakah  pengayaan rohani setelah membacanya?

Cerita ini dimulai dengan kisah awal mula kelahiran Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka. Seorang Begawan Wisrawa yang memutuskan untuk menemui Prabu Sumali demi memintakan Dewi Sukesi untuk dijadikan istri Danareja, anak Wisrawa. Tetapi sesampainya di Alengka, Wisrawa memutuskan bersedia untuk menjelaskan apa itu Sastra Jendara pada Sukesi. Pada saat proses menjelaskan inilah, Batara Guru dan Dewi Uma mencoba kebersihan niat dua manusia ini, yang ternyata berakhir dengan niat yang berbelok. Wisrawa yang berniat mendapatkan Dewi Sukesi untuk anaknya, malah menghamili perempuan itu. Dua manusia itu akhirnya diusir dari Lokapala.

Hingga akhirnya di tengah sebuah hutan, Sukesi melahirkan kandungan, berupa darah, telinga, dan kuku manusia. Tak lama darah itu menjadi anak dengan sepuluh muka raksasa yang dinamai Rahwana. Telinga menjadi anak raksasa sebesar Gunung Anakan dan dinamai Kumbakarna. Dan kuku menjadi anak raksasa wanita yang tidak sedap baunya, Sarpakenaka.

Lalu kisah Sugriwa, kisah pembebasan Dewi Sinta oleh Ramawijaya dan pasukan kera yang dipimpin Anoman, dan kisah-kisah lain.

Sindhunata memiliki kemampuan cara bertutur yang indah. Entahlah, kadang di sebuah cerita atau buku lain saya membaca narasi berbunga sambil mengerutkan kening. Apa ini maksudnya? Pilihan katanya sungguh membosankan maksud saya, saya tidak merasa keluasan pengetahuan si penulis (bukan berarti saya lebih tahu), kegugupan pemilihan contoh analogi, dan peletakkan konteks yang kurang tepat di rasa saya. Tetapi kalau di buku ini tidak, saya merasa takjub terhadap susunan kalimat yang memesona, dan sesuai konteks cerita.

Dewi Sukesi bercahaya seperti menara emas di tengah lautan darah. Kecantikannya mengumandang ke segenap penjuru dunia. Bidadari pun menjadi rendah hati melihat keelokan putri raksasa yang berwujud manusia jelita ini. Sampai mega-mega mengurungkan niatnya menjadi hujan, supaya manusia bisa senatiasa terpukau akan putri bagaikan Dewi Ratih ini. Bibirnya membentuk senyuman bunga angkosa yang manja dibangunkan embun pagi. Matanya mengerling dengan kewaspadaan yang indah dari mata berlian kijang kencana. Rambutnya mengurai menghelai bunga-bungaan tanjung menyulamkan kehidupannya di pelataran bunga kenanga. Busananya direnda benang lentera. Sebagai bulan yang tertutup pelangi, demikian keadaan buah dadanya yang jelita, tersembunyi di balik kain bersulamkan manikan Batari ratih. (hal 7)

Penglihatan menjadi gelap karena debu yang bercampur dengan darah. Sementara petang pun tiba, dan malam pun datang memisahkan mereka. Para balatentara kera mundur ke Suwelagiri, dan raksasa kembali ke perkemahannya di depan benteng kota Alengka.

Tanggal lima pada paro petang bulan yang kelima. Sunyi sepi dan gelap gulita. Bangkai para prajurit berserakan di mana-mana, di tengah tumpukkan bangkai gajah dan kuda-kuda. Angin berembus pelan membawa bau anyir darah. Ada gumpalan darah para prajurit yang membentuk karang-karang padang berwarna merah. Lalu bagai sungai tanpa suara, mengalir darah-darah mereka. Maka terdengarlah suara rumput-rumput lelah, bersama nyanyian burung-burung malam yang berduka. (hal 272)

Tidak memusingkan dan berisi banyak hal, selain kisah-kisah para manusia, batara, dan raksasa di atas. Seperti salah satunya mengenai ilmu lima pancer.  

Kau dilahirkan dalam kesatuan dengan jagad semesta. Pada kelahiranmu kekuatan jagad semesta itu menyatu, menjadi milikmu, berwujud dalam rupa kawah, ari-ari (dua kembar), darah, dan pusar. Maka sebenarnya kau lahir bersama kakang kawah, adhi ari-ari, getih dan puser. Kelima saudaramu itulah yang menemani kelahiran dan hidupmu. Kami semualah kekuatan jagad semesta yang telah melahirkanmu. Dan ketika kau dilahirkan, tersebarlah kawahmu di timur, darahmu di selatan, ari-arimu di barat, dan pusarmu di utara. (hal 208).

Benang merah karya sastra ”Anak Bajang Menggiring Angin,” ini berkisah tentang nafsu yang bersemayam di setiap diri manusia. Tidak peduli dia itu raja, resi, begawan, pertapa, satria atau seekor kera sekalipun. Di sana ada nafsu amarah, nafsu birahi, ataupun nafsu kekuasaan. Bahwa kerinduan akan kesempuraan itu jauh lebih indah dan mulia daripada sudah merasa sempurna dan melupakan kodrat manusia yang akan mudah jatuh tergelincir dalam dosa-dosa.

Kisah Ramayana yang terkenal itu masih sangat relevan untuk menggambarkan karut marut kekuasaan yang sedang melanda bumi Indonesia. Manusia yang berkuasa tak lebih dari sosok Rahwana atau Dasamuka, yang hanya mengejar nafsu dunia, menghalalkan segala cara. Atau sosok manusia bertopeng dusta. Banyak juga tokoh-tokoh agama yang semestinya jadi pantutan ternyata juga hanya mudah berkotbah dan mudah tergelincir dalam nafsu birahi yang semestinya telah berhasil dia kekang erat, seperti tergambar dalam sosok Resi Wisrawa yang jatuh cinta pada Dewi Sukesi. Itulah awal petaka ketika keduanya justru tidak mampu menjalani rahasia kehidupan  yang tersurat dalam ”Serat  Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.” Cinta yang seharusnya tumbuh  sebagai cinta agape, telah tergelincir ke dalam jurang cinta eros yang terlarang!

Persoalan cinta itu menjadi kian pelik ketika dalam sosok  Rama masih meragukan kesucian cinta Dewi Shinta, setelah diculik Rahwana. Apa gunanya mengerahkan ratusan pasukan kera menyeberang ke Alengka, menewaskan ribuan nyawa, hanya untuk membuktikan cinta yang dia tolak sendiri? Ternyata Rama bukanlah sosok lelaki sejati, yang bisa menerima segala kekurangan yang ada. Justru saya menemukan sosok mulia pada diri Hanoman, sosok kera yang berhati manusia. Bukankah memang lebih baik menjadi kera yang berhati manusia, daripada jadi manusia yang berhati kera?

Epos Ramayana, sudah banyak yang tahu alur utamanya. Namun di tangan Sindhunata epos itu menjadi sangat berbeda. Alur Ramayana sendiri semua sudah tahu, sudah jadi, dan sesuai pakem. Namun karena dituturkan dengan diksi yang memikat, juga tafsir yang sedikit berbeda dengan pemahaman “mainstream”, epos kuni itu bukan lagimenjadi cerita yang membosankan.

Satu hal yang istimewa adalah cara pandang pengarang terhadap cerita awal dan ending dari tragedi Shinta, juga terdapat suasana bathin tokoh-tokohnya di akhir cerita. Perang besar itu hanyalah demi sebuah ambisi tak ada yang dihasilkan, kecuali sebuah puing kesia-siaan.