Minggu, 09 Oktober 2011

Analisis Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karya A. A. Navis

Tunduk pun Masih Salah
Karya: Hartana Adhi Permana



          Menurut saya tema dari cerpen “Robohnya Surau Kami” yaitu tentang “keseimbangan”. Maksudnya keseimbangan dalam menjalankan hidup di dunia yang fana ini. Kita di dunia ini jangan beribadah dan menyembah Tuhan secara terus – menerus tanpa memperhatikan di sekeliling kita. Masih banyak kewajiban – kewajiban kita di dunia ini selain beribadah dan menyembah Tuhan, di samping kita harus beramal dan berinfak kepada orang yang membutuhkan.

         Pada suatu waktu, di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis - habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

            Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan, lalu Tuhan mengajukan pertanyaan. Tuhan menanyakan tentang apa yang diperbuat oleh Haji Saleh. Haji Salehpun menjawab yaitu tak ada pekerjaannya selain daripada beribadat menyembah-Nya, menyebut – nyebut nama-Nya. Bahkan dalam kasih-Nya, ketika Haji Saleh sakit, nama-Nya menjadi buah bibirnya juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Nya untuk menginsafkan umat-Nya. Tapi Tuhan belum cukup dengan yang diperbuat oleh Haji Saleh di dunia. Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

            Haji Salehpun telah menceritakan semuanya, tetapi Tuhan masih belum puas. Dan akhirnya kesabaran Tuhan ada habisnya, lalu Tuhan menyuruh Haji Saleh masuk ke nereka, dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga. Dan akhirnya ada usulan dari teman – temannya untuk demontrasi kepada Tuhan karena tidak terima atas perlakuan Tuhan. Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran- Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

            Lalu Tuhan bertanya “Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!” Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

            ‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh. ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” ini, kita mendapat ilmu tentang keseimbangan kita dalam menjalankan hidup di dunia ini. Kita tidak cukup dengan beribadah dan menyebut-nyebut nama-Nya saja, tetapi kita juga jangan melupakan urusan dunia kita. Salah satunya yaitu memikirkan anak istri, keluarga, sesama saudara muslimin dan muslimat, dan tentunya anak yatim piatu dan fakir miskin. Jangan sampai kita menyia-nyiakan negara kita Indonesia yang subur makmur loh jinawi, dengan berbagai kekayaannya yang melimpah. Jangan sampai negara kita itu diperbudak oleh negara lain. Dan itu tugas kita sebagai warga negaranya yang mempunyai rasa memiliki akan negara yang kaya ini. Banyak beberapa ayat Al-Qur’an dan hadist yang menyebutkan bahwa kita wajib menyembah dan beribadah kepada Allah SWT, tetapi kita jangan membuang waktu kita seharian hanya untuk menyembah Allah SWT tanpa memperhatikan sekeliling kita. Kita mempunyai orang tua dan keluarga yang harus diperhatikan, kita mempunyai negara yang sangat kaya ini untuk dikelola oleh kita jangan sampai kita diperbudak oleh negara lain, kita juga harus selalu menyantuni fakir miskin dan beramal kepada sesama yang membutuhkan. Karena masuk surga itu tidak hanya cukup beribadah dan menyembah nama-Nya saja. Sebagai contoh dalam cerpen tadi,, walaupun orang itu selalu menyembah nama-Nya, menghafal Al-Qur’an di luar kepala, berangkat ke Mekah sudah empat belas kali dan bergelar syekh pula tidak menjamin masuk surga dengan mudah. Kita harus membuang rasa egoistis kita yang ingin masuk surga sendirian tanpa memikirkan orang lain. Salah satu contoh konkretnya yaitu kita mengajak orang lain untuk beriman kepada Allah SWT, kalau kita mendapatkan ilmu dari orang lain ataupun sendiri kita harus mengamalkannya kepada orang lain.

Dan dari cerita banyolan dari Ajo Sidi sebenarnya jangan diambil hati oleh kakek, karena itu hanya banyolan yang tidak penting mungkin percis sama yang dialami oleh kakek yang sehari-hari hanya menyembah dan beribadah kepada Allah SWT tanpa memikirkan orang disekitarnya, kakek hanya menghabiskan waktu di surau tuanya itu. Kakek seharusnya jangan mempercayai banyolan tersebut yang membuat kakek bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan pisau cukur, karena bunuh diri itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang frustasi dan tidak mempunyai iman semata. Dan kakek sebenarnya harus introfeksi diri bahwa dirinya harus lebih memikirkan orang disekililingnya.

Dan banyolan yang diceritakan oleh Ajo Sidi kepada kakek sebenarnya tidak tepat karena itu sangat menyinggung perasaan orang lain. Cerita Ajo Sidi adalah biang keladi dengan bunuh dirinya kakek karena mungkin merasa sangat tersakiti dengan cerita Ajo Sidi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar